Diremehkan Tak Bakal Juara, Ini Kisah Lalu Muhammad Zohri dan Rio Haryanto

Lalu Muhammad Zohri berhasil meraih medali emas pada kejuaraan dunia u-20 yang digelar Federasi Atletik Internasional atau IAAF. Namun, Zohri yang menjadi juara dunia itu seperti, tidak diduga-duga sebelumnya oleh panitia atau pun pihak terkait lainnya karena bendera merah-putih milik Indonesia terlambat muncul.
Surya Rianto | 12 Juli 2018 11:35 WIB
Lalu Muhamad Zohri, atlet Indonesia memenangi final lari 100 meter putra pada kejuaraan dunia atletik junior IAAF World U-20 Championships di Tampere Stadium, 11 Juli 2018 di Tampere, Finlandia. - Twitter IAAF

Bisnis.com, JAKARTA - Lalu Muhammad Zohri berhasil meraih medali emas pada kejuaraan dunia U-20 yang digelar Federasi Atletik Internasional atau IAAF.

Zohri yang menjadi juara dunia itu sepertinya tidak diduga panitia atau pun pihak terkait lainnya menjadi juara dunia. Dugaan ini muncul, karena bendera merah-putih milik Indonesia terlambat muncul ketika Zohri memenangkan lomba lari tersebut.

Kemenangan pemuda asal Nusa Tenggara Barat (NTB) pada kategori 100 meter  tersebut tidak serta-merta bendera Indonesia berkibar. Panitia membutuhkan waktu lama untuk mencari bendera merah putih. Padahal, itu akan digunakan untuk penyerahan mendali di podium.

Zohri meraih medali emas di kejuaraan dunia setelah mencatatkan waktu 10,18 detik. Dia lebih unggul dari pelari asal Amerika Serikat (AS) Anthony Schwartz yang diperkirakan menjadi juara dunia pada gelaran kali ini. Sang unggulan dari Negeri Paman Sam harus puas berada di posisi kedua setelah mencatatkan waktu tempuh 10,22 detik.

Kemenangan Zohri ini bisa dibilang luar biasa, karena menjadi medali pertama bagi Indonesia dalam kejuaraan dunia atletik tersebut. Di sisi lain, kejadian pencarian bendera merah putih selepas Zohri menjadi juara dunia itu mengisyaratkan kalau Indonesia berlaga di sana dengan perkiraan tidak mungkin menang.

Kejadian serupa juga terjadi ketika Rio Haryanto berlaga di GP 3 seri Istanbul Turki pada 2010. Kala itu, Rio masih belum dikenal di dunia jet darat. Alhasil, ketika Rio memenangkan GP 3 di Turki, panitia tidak menyediakan lagu Indonesia Raya dan bendera merah putih.

Persoalan bendera merah putih bisa diatasi dengan membalik bendera Polandia yang berwarna putih merah. Lalu, lagu Indonesia Raya terpaksa dinyanyikan sendiri oleh Rio tanpa iringan lagu dari panitia.

Meremehkan Indonesia kembali terjadi pada Rio ketika memenangi GP3 seri Silverstone, Inggris pada 2010. Kala itu, Rio yang bukan unggulan kembali menang di GP seri Inggris. Namun, selepas balapan, panitia malah membongkar mobil Rio karena diduga ada kecurangan.

Tag : sport
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top