Wang Wenjiao, Wong Solo Arsitek Bulu Tangkis China

Puncak prestasi China adalah pada Olimpiade 2012 ketika lima emas cabang olahraga tepok bulu disapu bersih oleh pemain-pemain Negeri Tirai Bambu. Belum lagi kejuaraan beregu Piala Uber, Piala Thomas, dan Piala Sudirman yang direbut dan dipertahankan China secara berturut-turut di era 2000-an.
Samdysara Saragih
Samdysara Saragih - Bisnis.com 24 November 2019  |  05:48 WIB
Wang Wenjiao, Wong Solo Arsitek Bulu Tangkis China
/Repro/xinhua

Bisnis.com, JAKARTA -- Tak dapat dibantah bahwa China termasuk negara kuat dalam dunia bulu tangkis.

Negeri Panda mengusik dominasi Indonesia pada dekade 1980-an setelah bergabung dengan Federasi Bulu Tangkis Internasional (IBF). Persaingan kemudian bertambah ketat mengingat bulu tangkis semakin populer sejak dipertandingkan di Olimpiade 1992.

Puncak prestasi China adalah pada Olimpiade 2012 ketika lima emas cabang olahraga tepok bulu disapu bersih oleh pemain-pemain Negeri Tirai Bambu. Belum lagi kejuaraan beregu Piala Uber, Piala Thomas, dan Piala Sudirman yang direbut dan dipertahankan China secara berturut-turut di era 2000-an.

Namun, kejayaan China tidak ‘jatuh dari langit’ begitu saja. Negara berideologi komunis tersebut membangun kekuatan bulu tangkis pelan-pelan sampai akhirnya menangguk kesuksesan.

Nah, keberhasilan itu tak dapat dilepaskan dari sosok pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, bernama Wang Wenjiao. Pada 1954, Wang yang masih berusia 21 tahun meninggalkan Indonesia untuk kembali ke negeri leluhurnya, China.

Seperti dikutip dari situs resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), Sabtu (23/11/2019), Wang mengembangkan dunia tepok bulu yang tidak populer di China. Dia membangun program pelatihan bulu tangkis perdana China.

Bersama dengan Chen Fushou, Wang melatih pemain bulu tangkis putra semisal Tang Xianhu, Hou Jiachang, dan Fang Kaixiang. Ketiganya memang menakutkan, tetapi tak bisa berhadapan langsung dengan pemain-pemain anggota IBF seperti Indonesia, Malaysia, dan Denmark.

Sesudah bergabung dengan IBF pada 1981, China berhasil membuktikan tajinya. Pada 1982, China sebagai kontestan debutan merebut Piala Thomas setelah mengalahkan Indonesia di partai final. Dua tahun berselang, giliran Piala Uber direbut oleh srikandi-srikandi negara itu.

Pada dekade 1980-an, jagoan China yang kerap menjadi momok Indonesia adalah tunggal putra Yang Yang dan Zhao Jianhua. Pasangan Li Yongo/Tiang Bingyi adalah ganda putra papan atas yang membantu China membawa pulang Piala Thomas edisi 1986, 1988, dan 1990.

Para pemain putra itu di bawah asuhan Wang Wenjiao. Dia baru berhenti melatih skuad tepok bulu China pada awal 1990-an ketika dominasi putra kembali diambil alih Indonesia.

Atas jasanya itu, pada 28 September 2019 Presiden China Xi Jinping menganugerahkan penghargaan sipil kepada Wang. Dinukil dari kantor berita Xinhua, penghargaan itu bernama ‘People's Role Model’. Wang menjadi tokoh olahraga pertama yang mendapatkan titel tersebut.

“Saya berterima kasih karena negara saya masih mengingat saya. Saya kira saya sudah dilupakan. Saya merasa ini merupakan kejutan besar,” kata Wang di situs resmi BWF.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bulutangkis

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top