Bulu Tangkis vs Perlindungan Anak, Ini Saran Eks Komisioner KPAI

PB Djarum tidak lagi menggelar audisi bulu tangkis untuk anak-anak karena dianggap mengeksploitasi oleh Komisi Perlindungan Indonesia (KPAI). Ada merk rokok penyebabnya.
Jaffry Prabu Prakoso
Jaffry Prabu Prakoso - Bisnis.com 09 September 2019  |  09:50 WIB
Bulu Tangkis vs Perlindungan Anak, Ini Saran Eks Komisioner KPAI
Ganda putri Indonesia, Rizki Amelia Pradipta-Ni Ketut Mahadewi Istarani - Instagram

Bisnis.com, JAKARTA -  PB Djarum tidak lagi menggelar audisi bulu tangkis untuk anak-anak karena dianggap mengeksploitasi oleh Komisi Perlindungan Indonesia (KPAI). Ada merk rokok penyebabnya. 

Ketua Indonesia Child Protection Watch Erlinda mengatakan bahwa masyarakat sebaiknya diberikan pemahaman yang jelas dan komprehensif terkait eksploitasi pada anak. 

“Apa indikator yang menyatakan bahwa audisi yang dilakukan oleh PB Djarum adalah merupakan tindakan eksploitasi,” kata dia melalui keterangannya, Senin (9/9/2019).

Erlinda yang juga mantan Komisioner KPAI periode 2014–2017 menjelaskan bahwa secara harfiah sudah sangat jelas pengertian eksploitasi anak sesuai dengan Undang-Undang Perlindungan Anak.

Dia meminta ada pihak yang dapat memediasi agar PB Djarum dan KPAI mempunyai titik temu, serta punya solusi yang terbaik untuk kepentingan bangsa Indonesia, serta olahraga. 

“Sejak lahir setiap anak mempunyai bakat minat dan kekayaan intelektual yang diberikan Tuhan berbeda. Minat bakat dan intelektual sebaiknya distimulasi dan dikembangkan sedari kecil agar dapat optimal pada tumbuh kembangnya,” jelasnya.

Di sisi lain, menurut Erlinda, bulu tangkis merupakan salah satu cabang yang membuat nama Indoensia dikenal dunia. Banyak anak Indonesia yang mempunyai minat bakat bulu tangkis namun mati karena ketidakmampuan ekonomi.

Oleh karena itu, dia memberikan solusi agar mengubah nama kegiatan Audisi Djarum Foundation menjadi Audisi Badminton Berprestasi atau dalam bentuk lain. Selama proses pencarian bakat juga tidak menggunakan nama merek dagang dan logo, termasuk brand image produk tembakau/iklan, promosi, dan sponsorship.

“PR tentang pemenuhan dan perlindungan anak sangat banyak apalagi kejahatan cyber crime menyisakan pemikiran serta Kejahatan Anak secara nyata didepan mata. Contohnya narkoba, pornografi, kekerasan seksual, radikalisme, dan dokrin penyimpangan pemahaman tentang agama,” ucap Erlinda.

 

                       

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bulu tangkis, kpai

Editor : Nancy Junita
Top