Ciptakan All Indonesian Final, Ini Evaluasi Pelatih untuk Ganda Putra di Indonesia Open 2019

Kevin Sanjaya / Marcus Gideon bakal menghadapi seniornya Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan di babak final Indonesia Open 2019. Pertemuan keduanya di final dan Istora Senayan menjadi yang kedua pada tahun ini setelah sebelumnya sempat adu pukul shuttlecock di Indonesia Master 2019.
Surya Rianto
Surya Rianto - Bisnis.com 20 Juli 2019  |  17:39 WIB
Ciptakan All Indonesian Final, Ini Evaluasi Pelatih untuk Ganda Putra di Indonesia Open 2019
Kevin Sanjaya, Marcus Gideon, dan Herry IP dalam jumpa pers setelah semifinal Indonesia Open 2019. - Bisnis/Surya Rianto

Bisnis.com, JAKARTA -- All Indonesian Final tercipta di Indonesia Open 2019 pada sektor ganda putra. Namun, Herry IP selaku pelatih ganda putra Indonesia memiliki beberapa catatan terkait performa anak asuhnya yang ikut Indonesia Open 2019.

Herry IP bersyukur sektor ganda putra bisa menciptakan All Indonesian Final di Indonesia Open 2019. Di luar Kevin/Marcus dan Hendra Setiawan/Mohamad Ahsan, sang pelatih memiliki beberapa catatan krusial terkait kinerja anak asuhnya.

"Salah satu yang dievaluasi adalah performa Fajar Alfian/Rian Ardianto. Performa mereka di perempat final di bawah standar," ujar Herry IP saat jumpa pers,  Sabtu (20/7/2019).

Herry mengaku sudah memberikan evaluasi dan motivasi kepada Fajar dan Rian. Ada beberapa faktor yang membuat peforma ganda putra peringkat 6 dunia itu menurun.

"Dari babak 32 besar dan 16 besar, mereka sudah bermain cukup ketat. Lalu, dari segi fisik daya tangan dan ototnya sudah turun banget," ujarnya.

Hal itu yang membuat Fajar/Rian kewalahan hingga kalah di babak perempat final dari Takuro Hoki/Yugi Kobayashi.

Di sisi lain, setelah pertandingan, Fajar sempat mengakui kalau permainannya lebih monoton hingga harus mengakui keunggulan lawannya.

Fajar/Rian secara mengejutkan kalah di babak perempat final dari Hoki/Kobayashi dua set langsung 19-21, 12-21 selama 42 menit. Padahal, Fajar/Rian adalah unggulan keenam dalam turnamen level 1000 tersebut.

All Indonesian Final Kedua di Istora

Sementara itu, pertemuan rekan senegara Kevin/Marcus dengan Hendra/Ahsan seolah mengulang final Indonesia Master 2019. Kala itu, Kevin/Marcus menasbihkan diri sebagai juara setelah mengandaskan seniornya dua set langsung 21-17, 21-11.

Untuk final yang diadakan Minggu (21/07/2019), Kevin menilai kecepatan yang dimilikinya belum tentu bisa mengantarkan menjadi juara Indonesia Open 2018.

"Setiap pemain punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Apalagi, kami juga sering berlatih bersama," ujarnya.

Pertandingan final ganda putra Indonesia open 2019 seharusnya bakal ketat. Pasalnya, Kevin/Marcus dan Hendra/Ahsan akan berebut gelar demi melengkapi raihan sebelumnya.

Sejauh ini, kedua pasangan Indonesia itu pernah meraih satu gelar Indonesia Open. Kevin/Marcus adalah juara bertahan di gelaran Indonesia Open kali ini, sedangkan Hendra/Ahsan meraihnya saat Indonesia Open 2013.

Menang Mudah di Semifinal

Perjuangan Kevin/Marcus di semifinal Indonesia Open bisa dibilang lebih mudah. Minions membantai pasangan China Li Jun Hui/Liu Yu Chen dua set langsung 21-9, 21-13 hanya dalam 29 menit

Marcus mengakui, lawannya sedikit tertekan sejak awal pertandingan sehingga lebih mudah dikendalikan. Lalu, Kevin menilai peformanya lebih baik pada hari ini sehingga bisa menang cukup mudah.

"Kami mengontrol pertandingan. Lalu, lawan mengikuti dengan bermain cukup cepat," ujar Kevin.

Di sisi lain, seniornya Hendra/Ahsan harus mati-matian agar bisa ke final. The Daddies, sapaaan Hendra Ahsan, dipaksa bermain rubber set 17-21, 21-19, 21-17 oleh ganda Jepang Hoki/Kobayashi.

Hendra mengakui, dirinya merasa kurang pas ketika bermain di awal set pertama. Akhirnya, pasangan Indonesia itu harus merelakan set pertama.

"Pengennya sih semua shuttlecock masuk semua, tetapi ketika di lapangan sudah siap, belum tentu ketika mainnya langsung enak. Paling penting sih, kami bisa mengatasinya dan membalikkan keadaan," ujarnya.

Selain itu, Hendra mengaku kerap ragu-ragu sehingga cenderung tertekan oleh lawan.

"Selain itu, pengembalian shuttlecock juga banyak yang nanggung sehingga menjadi makanan empuk lawan," ujarnya.

Ahsan mengungkapkan, cara membalikkan keadaan yang sempat tertinggal di set pertama adalah mengubah pola permainan.

"Kami ubah pola menjadi lebih inisiatif. Sebelumnya, kami cenderung nunggu sehingga menguntungkan lawan," ungkapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bulutangkis, badminton

Editor : Surya Rianto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top