Asian Para Games 2018: Kisah Sprinter Karisma Evi Tiarani Berjuang Menyeimbangi Kaki

Asian Para Games 2018: Kisah Sprinter Karisma Evi Tiarani Berjuang Menyeimbangi Kaki
Muhammad Ridwan | 10 Oktober 2018 15:31 WIB
Pekerja menyelesaikan pemasangan tulisan Indonesia 2018 Asian Para Games di kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Senin (1/10/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Sprinter Indonesia berhasil menambahkan torehan medali emas melalui nomor lari 100 meter putri T42/T63, Karisma Evi Tiarani yang diturunkan untuk merebut medali emas.

Karisma Evi Tiarani berhasil menjadi yang tercepat saat bertanding di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta dengan catatan waktu 14,98 detik.

Evi meninggalkan dua pelari Jepang, Kaede Maekawa yang finis dengan waktu 16,89 detik dan Tomowi Tazawa pelari tercepat ketiga dengan waktu 16,98 detik.

Bertanding sebagai tuan rumah, Evi berjuang menjaga keseimbangan kakinya yang memiliki keterbatasan, kaki kiri Evi lebih pendek dibandingkan dengan kaki kanannya.

"Keseimbangan
itu yang pertama, karena kaki saya yang satu lebih lemah, otomatis harus menyesuaikan," ujar Evi usai meraih medali emas, Rabu (10/10/2018).

Pelari asal Boyolali ini memulai karirnya sejak duduk di bangku kelas 2 Sekolah Menangah Pertama (SMP), berbagai kendala dihadapinya, pada awalnya Evi tidak diperbolehkan orang tuanya untuk menjadi atlet, namun lambat laun, orang tuanya pun mengizinkannya karena melihat kegigihannya.

Evi pernah mengikuti berbagai perlombaan atletik, mulai dari kelas daerah, provinsi, nasional, hingga Asean, dan yang terbaru saat ini tingkat Asia di Asian Para Games 2018.

"Lalu mulai ikut Pekan Paralimpiade Daerah (Paperda), kemudian ikut Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP), nah dari situ mulai latihan lagi, ikut lomba-lomba yang lain terus kemarin itu ikut Pekan Paralimpiade Nasional (Pepernas) di Bandung. Nah dari situ ada panggilan untuk pelatnas Asean Para Games 2017. Lalu baru ikut pelatnas di Solo untuk Asian Para Games 2018," tuturnya.

Atlet yang saat ini duduk di bangku kelas 12 Sekolah Menengah Pertama mengungkapkan, saat pertama kali mencoba untuk menjadi atlet membutuhkan waktu yang cukup lama, berbekal kegigihan dan kesabaran ia mampu mengatasi keterbatasan yang ia milikinya.

"Dari baru lahir. Penyebab nya nggak tahu, itu juga orang tua saya nggak tau. Saat mulai bisa jalan baru kelihatan," cerita Evi soal keterbatasannya.

"Berbulan-bulan tapi ya harus dipaksa, pertamanya memang nggak tau gimana teknik lari, jadi untuk mengurangi rasa sakit itu disesuaikan. Misal kaki kanan yang lebih kuat gimana angkatnya dan yang kiri tinggal menyesuaikan," tambahnya.

Semangat yang dimilikinya, kegigihan yang tak pernah berhenti, membuahkan medali emas untuk Indonesia dalam Asian Para Games 2018, dan menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia lainnya.

"Saya bangga kepada anak dari orang tua saya dan juga Indonesia, walaupun memiliki keterbatasan," tutup Evi.

Tag : Asian Para Games
Editor : Andhika Anggoro Wening
Top