Asian Para Games, Suryo Nugroho: Semangat Tak Teramputasi Untuk Badminton

Asian Para Games, Suryo Nugroho: Semangat Tak Teramputasi Untuk Badminton
Asteria Desi Kartika Sari | 08 Oktober 2018 17:30 WIB
Asian Para Games 2018 - youtube

Bisnis.com, JAKARTA-Keseimbangan tubuh Suryo Nugroho saat mengayunkan raket terganggu lantaran tangan kirinya tingga separuh, tapi kecintaannya terhadap bulu tangkis tak menghalanginya memburu prestasi tertinggi.

Pria kelahiran Surabya, 17 April 1995 itu menekuni bulu tangkis sejak usia 7 tahun, secara normal. Namun, kecelakaan pada 2006, saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar memaksa dokter harus mengamputasi satu tangannya.

“Tangan lengan kiri saya harus diamputasi. Jadi saya terkungkung selama 3 tahun sampai 2009, dan saat itu saya mulai tahu kalau ada organisasi disabilitas, Paralympic,” kata Suryo kepada Bisnis.

Kini, Suryo menatap mimpi yang lebih besar di ajang Asian Para Games 2018, dia menargetkan mencapai final dalam ajang tersebut, apalagi Indonesia sebagai tuan rumah. Baginya tentu hal tersebut dapat menjadi suntikan semangat. Berikut petikan wawancara tim Bisnis.com dengan Suryo.

Bagaimana cerita awalnya, mengapa memutuskan untuk menjadi atlet para badminton?

Sebenarnya saya dulu atlet normal, saya sudah mulai latihan di usia 7 tahun, pada saat 2006, saat 6 SD saya mengalami kecelakaan. Jadi tangan lengan kiri saya harus diamputasi, jadi saya sempat terkungkung selama tiga tahun sampai 2009, dan pada saat itu saya mulai tahu kalau ada organisasi disabilitas, paralimpik. Jadi pertama kali saya mengikuti pekan paralimpik pelajar nasional di Yogyakarta 2009. Dari situlah awal mulanya alhamdullilah saya juara, setelah itu diakhir tahunnya ada kejuaraan pertama bulu tangkis, alhamdulilah juga juara. Tahun 2010, saya masuk tim nasional untuk mengikuti Asian Para Games pertama kali di Ghuangzhou China.sampai sekarang

Persiapannya seperti apa untuk Asian paragames 2018 ini, dibandingkan dengan pertandingan atau turnamen lainnya?

Sebanrnya kalau dari segi pelatihan sama saja, karena kan mulai kita pelatnas dari bulan Januari sampai sekarang ada persiapan sendiri-sendiri. Misalnya ada persiapan umum, persiapan fisik, persiapan pra kompetisi. Jadi kalau memasuki bulan September sebenarnya sudah lebih rileks, hanya latihan beban seperti nge-gym itu agak dikurangi. Supaya bisa jaga kondisi untuk pertandingan.

Dalam kondisi seperti ini, menjadi atlet badminton khususnya apakah ada kendala?seperti apa kendalanya?

Kalau saya kan kekurangannya di tangan, jadi kalau saya sih kendalanya di keseimbangan itu aja, kalau yang lainnya menurut saya tidak ada

Bagaimana meningkatkan rasa percaya diri untuk pertandingan?

Ya harus termotivasi dengan yang lain, karena kalau saya sendiri yang saya jadikan motivasi seperti Taufik Hidayat, dia prestasinya sudah banyak banget, prestasinya sudah lengkap gitu, itu menjadi acuan semangat saya.

Pertasi yang sudah diraih yang dapat memberikan motivasi lebih?

2016 sudah juara ASEAN Para Games di Singapura, 2017 juara dunia jadi ya mudah-mudahan di tahun ini dapat meraih medali emas, Cuma kan itu tidak saya jadikan sebagai beban sih. Target saya sebenarnya untuk saat ini lebih ke masuk final dulu. Tapi kalau udah final pasti akan main habis-habisan nanti.

Harapan bagi pemerintah bagaimana?

Kalau menurut saya apresiasi pemerintah untuk atlet disabilitas sebenrnya sudah sangat luar biasa ya, karena sudah sejak 2015 kami sudah disamapakan [dengan atlet pada umumnya], misalnya dari segi bonus ataupun dari segi peralatan juga sudah bagus. Ya harapannya yang sudah bagus ini bisa dipertahankan untuk seterusnya gitu aja untuk lebih memotivasi kami.

Apa yang menjadi motivasi?

Yang pasti dari orang tua, kalau ibu sudah tidak ada ayah yang selalu kasih support tiap hari, selalu menghubungi selalu tanya bagaimananya latihannya selalu istirahat, janga sampai sakit, itu juga menguatkan saya.

Ada motivasi tidak setelah melihat pertandingan dari Asian Games sebelumnya?

Sebenarnya target dari pelatih itu dari cabang bulu tangkis ada empat emas, itu juga terdiri dari ganda campuran, ganda putra, tunggal putri, tunggal putra. Tapi saya yang pasti dan teman-tema supaya target itu paling meleset-melesetnya ke atas gitu, tidak turun, kan kita juga bagaimana lagi di lapangan ya. Pastinya kita juga akan memberikan yang terbaik, karena kita kan tampil di Indonesia.

Bagaimana support dari pelatih, apakah ada perhatian lebih?

Kalau pelatih ngasih perhatian yang sama pada setiap atlet, tetap ngasih support aja ke semua atlet, yang pasti itu tadi kembali lagi kita harus memberikan yang terbaik karena kita kan menjadi tuan rumah di Asian Games dan Para Games, kapan lagi Indonesia jadi tuan rumah kan. Jadi tambah memberikan semangat.

Lalu bagaimana target untuk pertandingan selanjutnya, atau harapan ke depannya?

Yang paling dekat ini kan Asian Para Games yak, kalo selanjutnya sih bisa masuk kualifikasi Paralympic Tokyo 2020. Soalnya Olimpiade untuk pertama kalinya untuk para bulu tangkis, karena sebelumnya kan belum ada, jadi pengen banget bisa tampil di sana.

Tag : Asian Para Games
Editor : Andhika Anggoro Wening
Top