Para Pejuang Tangguh di INAPG 2018

Indonesia 2018 Asian Para Games atau INAPG 2018 diharapkan mendulang kesuksesan yang sama dengan Asian Games, baik prestasi maupun penyelenggaraannya. Selain itu, ajang olah raga insan difabel ini juga bisa jadi pembuktian bahwa Indonesia ramah difabel. Mampukah?
Asteria Desi Kartika Sari, Eva Rianti, Aprianus Doni | 30 September 2018 00:08 WIB
Penari melakukan latihan untuk tampil dalam upacara pembukaan Asian Para Games 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis (27/9). Pembukaan Asian Para Games 2018 akan digelar pada 6 Oktober di Stadion Utama Gelora Bung Karno. - Antara

Indonesia 2018 Asian Para Games atau INAPG 2018 diharapkan mendulang kesuksesan yang sama dengan Asian Games, baik prestasi maupun penyelenggaraannya. Selain itu, ajang olah raga insan difabel ini juga bisa jadi pembuktian bahwa Indonesia ramah difabel. Mampukah?

Keseimbangan tubuh Suryo Nugroho saat mengayunkan raket terganggu lantaran tangan kirinya tinggal separuh, tetapi kecintaannya pada bulu tangkis tak menghalangi keinginannya memburu prestasi tertinggi.

Pria kelahiran Surabaya, 17 April 1995 itu menekuni bulu tangkis sejak usia 7 tahun, secara normal. Kecelakaan pada 2006, saat dia masih kelas 6 SD, memaksa dokter mengamputasi satu lengannya.

“Tangan lengan kiri saya harus diamputasi. Jadi saya sempat terkungkung selama 3 tahun sampai 2009, dan pada saat itu saya mulai tahu kalau ada organisasi disabilitas, Paralympic,” ujarnya.

Kerja kerasnya dan semangatnya pun membuahkan hasil dengan beberapa gelar juara internasional, seperti emas di Asean Para Games 2015. Kini ia menatap Asian Para Games 2018, juga Paralimpiade Tokyo 2020. Semangatnya tak pernah teramputasi.

Keterbatasaan juga dialami Jendi Pangabean, atlet renang yang hanya memiliki satu kaki akibat amputasi setelah kecelakaan pada 2004. Namun, di balik keterbatasannya, atlet kelahiran Sugih Waras, 10 Juni 1991 ini punya prestasi mencolok.

Di Asean Para Games 2017 di Malaysia Jendi menyapu lima medali emas. Bahkan, pada perlombaan renang nomor 200 meter gaya ganti perorangan SM9, Jendi memecahkan rekor yang ia torehkan sendiri di Asean Para Games 2015 Singapura, dengan waktu 2 menit 33,37 detik.

Jendi juga menyabet dua medali emas pada Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) atau PON 2012, 2 emas dan 2 perak di Asean Para Games Myanmar 2014, 3 emas 2 perak dan 1 perunggu di Asean Para Games Singapura.

Torehan prestasi itu jadi bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang. “Proses panjang dan tidak mudah telah saya lalui hingga akhirnya berbuah manis yakni prestasi di berbagai ajang,” tutur Jendi.

Bagi atlet, baik yang normal maupun dengan keterbatasan, usaha keras sudah pasti jadi kunci. Untuk Jendi ataupun Suryo, kerja keras itu harus ditambal dengan tekad untuk melampaui keterbatasan, yang pada gilirannya jadi modal untuk menggenggam sejumlah prestasi.

Nama lainnya adalah Nanda Mei Sholihah, perempuan asal Kediri yang menekuni bidang lari 100 meter, 200 meter, 400 meter dan lompat jauh. Bahkan ketiadaan separuh tangan kanannya sama sekali tak menjadi kendala lantaran sudah bawaan sejak lahir.

Termotivasi oleh dukungan dari keluarga sejak kecil, peraih medali emas pada Asean Para Games 2017 dan 2015 ini bertekad mencapai yang lebih baik di INAPG 2018, apalagi Indonesia sebagai tuan rumah.

“Motivasi saya sih orang tua. Sebab yang nyuruh orang tua, jadi yang semangatnya buat orang tua,” aku gadis yang aktif bermedia sosial Instagram dengan alamat @nandameish ini.

Di luar soal adu kemampuan di arena, baginya Asian Para Games juga menjadi penting lantaran jadi medium untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas soal kelompok difabel dan hak-hak mereka untuk diperlakukan setara.

Olahraga, katanya, bisa jadi sarana penyandang disabilitas untuk beraktualisasi diri bahkan berprestasi. Sayangnya, tak semua mengerti bahwa ada ajang paralimpik.

Diakuinya, perhatian pemerintah ke atlet difabel baru terasa setelah Indonesia menjadi juara umum di Myanmar pada 2013.

Nanda, Jendi atau Suryo adalah contoh kuatnya pesan inspirasi dari generasi milenial yang dengan keterbatasannya mampu menunjukkan daya juangnya di ajang paralimpik.

Bukan hanya mereka bertiga, tetapi ada sekitar 2.888 atlet dari 41 negara akan membuktikan diri bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berprestasi. Ajang INAPG 2018 akan berlangsung 6 – 13 Oktober dengan 18 cabang olahraga.

“Ajang ini menjadi pembuktian bahwa para penyandang disabilitas juga mampu mengharumkan nama Indonesia. Lebih dari itu, semoga menjadi penyemangat para difabel untuk dapat meraih kesuksesan di bidangnya masing-masing. Keterbatasan bukanlah halangan untuk berprestasi,” tutur Jendi.

 

EUFORIA ASIAN GAMES

Euforia kesuksesan Asian Games yang berakhir 2 September jadi modal penting penyelenggaraan Asian Para Games. Ketua Indonesia Asian Para Games Organizing Committee (Inapgoc) Raja Sapta Oktohari mengakui pihaknya memang memanfaatkan euforia tersebut sebagai momentum untuk menarik perhatian masyarakat.

Menurutnya, masyarakat harus tahu pentingnya gelaran Asian Para Games dan panitia berusaha memastikan event ini tidak kalah seru untuk disaksikan. Apalagi, Indonesia adalah tuan rumah.

Mengambil tema “The Inspiring Spirit and Energy of Asia,” Okto menyebut bahwa para atlet yang akan berlomba nanti adalah manusia-manusia yang menginspirasi. “Mereka datang ke Indonesia bukan untuk dikasihani, tetapi dengan tujuan yang sama yakni menyanyikan lagu kebangsaan dan menaikkan bendera negara mereka masing-masing,” tutur Okto.

Inapgoc sendiri hanya memiliki waktu sekitar 1 bulan setelah Asian Games 2018 untuk mempersiapkan diri. Okto mengakatan bahwa panitia bekerja secara simultan dengan menggandeng semua pihak terkait untuk bersama mensukseskan Asian Para Games 2018.

Indonesia sendiri menargetkan berada di peringkat ke-7 dengan 16 emas di Asian Para Games 2018. Guna mengejar target itu, National Paralympic Committee (NPC) telah jauh-jauh hari melakukan persiapan.

Sekretaris Jenderal NPC Pribadi mengatakan ada pelatihan khusus yang disesuaikan dengan cabang olahraga masing-masing atlet, terutama pada kesiapan fisik dan teknik. “Mereka sudah percaya diri meski dalam keterbatasan fisik, pembinaan dalam psikologis sudah tidak dilakukan kepada mereka.”

Diakuinya, dukungan terhadap atlet difabel semakin terasa sejalan dengan berlakunya UU Nomor 8/2016 tentang penyandang disabilitas. Beleid itu berdampak pada pembangunan akses dan fasilitas khusus bagi kaum difabel di lokasi publik, termasuk bidang olahraga.

Tag : Asian Para Games, Asian Paragames 2018
Editor : M. Taufikul Basari
Top