Masa Depan Atlet Setelah Asian Games

Meskipun sudah ditutup pada 2 september, gegap gempita Asian Games 2018 masih berdengung di kepala banyak orang. Selain soal kesuksesan penyelenggaraan acara, prestasi para atlet dan apresiasi pemerintah jadi beberapa pemicunya.
Dewi Andriani, Eva Rianti, Rayful Mudassir | 08 September 2018 13:29 WIB
Presiden Joko Widodo menyerahkan buku tabungan yang merupakan bonus kepada atlet Indonesia yang meraih medali dalam Asian Games 2018 di Istana Negara, Jakarta, Minggu (2/9/2018) - Yodie Hardiyan

Meskipun sudah ditutup pada 2 september, gegap gempita Asian Games 2018 masih berdengung di kepala banyak orang. Selain soal kesuksesan penyelenggaraan acara, prestasi para atlet dan apresiasi pemerintah jadi beberapa pemicunya.

Aura optimisme yang menguar dari hasil Asian Games 2018 pun menular. Kini pemerintah berancang-ancang menyodorkan proposal untuk bisa menggelar Olimpiade 2032, bahkan membawa agenda Piala Dunia ke Indonesia.

Tak berlebihan memang, karena banyak catatan positif yang diperoleh Indonesia sebagai tuan rumah ajang pesta olahraga negara-negara Asia dengan tagline ‘Energy of Asia’ ini. Salah satunya perolehan 31 medali emas, 24 perak, dan 43 perunggu yang jadi penanda kesuksesan prestasi di bidang olahraga.

Gelontoran bonus pun mampir ke rekening masing-masing atlet peraih medali dan para pelatih. Gerak cepat Presiden Joko Widodo untuk membagi bonus yang dijanjikan sebelum penutupan memberikan ekspektasi lain soal masa depan atlet.

Menjadi atlet bisa jadi pilihan profesi yang menarik dengan jenjang karier yang kian jelas, bahkan untuk olahraga seperti pencak silat yang tidak masuk ke Olimpiade. Hal ini diakui Hanifan Yunadi Kusumah, peraih medali emas yang viral dengan aksinya memeluk Jokowi dan Prabowo Subianto.

“ masih sangat menjanjikan di Indonesia saat ini. Apalagi saya masih usia 20 tahun sehingga masih panjang juga karier untuk atlet. Mungkin saya akan terus menjadi atlet sampai usia maksimal yakni 35 tahun,” tutur hanifan.

Cara pemerintah mengapresiasi atlet pun semakin bagus. Selain bonus, jaminan sebagai pegawai negeri sipil atau masuk ke militer dapat menjadi pemicu generasi muda lebih serius menekuni olahraga.

Maklumlah, menjadi atlet berprestasi butuh pengorbanan panjang dan berat. Latihan dan disiplin dijalani para atlet sejak kecil, yang kadang mengorbankan prestasi di sekolah.

Kepala Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Kemenpora Mulyana mengakui bahwa pengorbanan masa remaja, waktu bermain, hingga harus meninggalkan keluarga adalah sesuatu yang tidak bisa diukur. “Itu yang memang harus dihargai, itulah wujud dari komitmen atlet untuk Asian Games ini,” ujarnya.

Namun, bagi atlet angkat besi Eko Yuli Irawan, jaminan jadi PNS atau karier sebagai pelatih saja tidak cukup. Peraih medali emas ini rupanya sudah punya rencana untuk mengembangkan bisnis dari modal bonus Rp1,5 miliar yang didapatnya.

“Karena kalau nanti hanya tergantung dari PNS saja akan tidak menutupi kebutuhan hidup. Maka bonus akan diputar daripada nanti malah kepakai enggak karuan malah habis, jadi harus bisa dimanfaatkan atau diputar agar nanti bisa memberikan penghasilan tambahan.” (M. Taufikul Basari)

Tag : asian games 2018, asian games
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top