Organisasi Pencinta Alam Terbukti Mampu Sumbang Atlet Profesional

Tim panjat tebing Indonesia menyabet tiga medali emas, dua medali perak, dan satu perunggu pada ajang Asian Games 2018. Tiga di antara medali-medali tersebut diraih oleh pemanjat tebing berlatar pencinta alam.
Wibi Pangestu Pratama | 06 September 2018 01:23 WIB
Atlet panjat tebing Indonesia Aspar Jaelolo saat merebut medali emas Asian Games 2018. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Tim panjat tebing Indonesia menyabet tiga medali emas, dua medali perak, dan satu perunggu pada ajang Asian Games 2018. Tiga di antara medali-medali tersebut diraih oleh pemanjat tebing berlatar pencinta alam.

Medali emas dan perak dipersembahkan Puji Lestari, dara yang menggeluti panjat tebing sejak SMA. Puji mengenal panjat tebing saat bergabung dengan organisasi pencinta alam di sekolahnya.

Saat SMA, Puji tidak dapat menyalurkan kegemarannya bermain sepak takraw karena tidak ada ekstra kurikuler olahraga tersebut. Alhasil, Puji memilih ekstrakurikuler pencinta alam, yang kemudian menjadi titik awal kariernya.

Medali perunggu dari cabang panjat tebing dipersembahkan Aspar Jaelolo, asal Sulawesi Tengah. Aspar bergabung dengan organisasi mapala (mahasiswa pencinta alam) saat kuliah.

Sejak bergabung dengan organisasi mapala di kampusnya, Aspar mulai menggeluti panjat tebing. Dia telah merambah berbagai kejuaraan baik di dalam negeri maupun di luar negeri dengan banyak raihan.

Komunitas dan organisasi pencinta alam sendiri menjadi salah satu penyumbang atlet olahraga luar ruang seperti panjat tebing. Namun, menurut Hendra Basir, pelatih nasional panjat tebing nomor speed, jumlahnya belum banyak.

Hendra menuturkan panjat tebing di Indonesia berawal dari olahraga petualangan. Olahraga tersebut banyak digeluti orang-orang yang membentuk perkumpulan pencinta alam.

Seiring dengan banyaknya kejuaraan panjat tebing di luar negeri, kejuaraan di Indonesia pun mulai bermunculan. Dari sana, aktivitas panjat tebing di Indonesia mulai mengarah ke olahraga prestasi.

“Dari olahraga petualangan ke olahraga prestasi. Dari olahraga rekreasi ke olahraga prestasi. Pionirnya dari mapala, sispala [siswa pencinta alam], mereka berkompetisi,” ujar Hendra kepada Bisnis pada Selasa (4/9/2018).

Sejalan dengan terus bertambahnya peminat panjat tebing, atlet-atlet tidak hanya berasal dari pencinta alam. Tren itu pun direspons oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) dengan membina atlet di tiap cabang (kabupaten).

Menurut Hendra, pembinaan atlet oleh FPTI memungkinkan talenta panjat tebing dapat dikembangkan sedari dini. Lain halnya dengan sispala atau mapala yang baru dapat melatih bibit atlet di usia SMA atau kuliah.

Sistem pembinaan usia muda dirasa Hendra perlu terus dikembangkan. Bukan hanya oleh FPTI, komunitas dan organisasi pencinta alam pun turut dapat mengambil peran.

“Sistem pembinaan yang serius perlu dijalankan. Kita goal-nya ke sport, olahraga prestasi. Kalau fokusnya ke situ, latihan, istirahat, sama makannya harus diatur. Siklus itu harus jalan bareng,” tutur Hendra.

Saat dihubungi Bisnis pada Selasa (4/9/2018), Hendra mengaku kondisi tubuhnya sedang menurun. Dia merasa tidak bugar setelah terguyur hujan saat penutupan Asian Games 2018.

Berakhirnya pesta olahraga terbesar Asia tersebut menjadi awal langkah tim panjat tebing Indonesia selanjutnya. Seperti dilansir dari situs resmi FPTI, Hendra menyatakan prestasi tim panjat tebing Indonesia merupakan batu loncatan menuju Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang.

Tag : asian games 2018, panjat tebing
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top