Francis Wanandi, Orang di Balik Layar Kesuksesan Asian Games 2018

Sekarang masyarakat lebih mengenal Franscis Wanandi sebagai Ketua Deputi II Indonesia Asian Games Organizing Committee (Inasgoc) atau yang akrab disebut sebagai Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games 2018
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 31 Agustus 2018 13:11 WIB
Ketua Deputi II Indonesia Asian Games Organizing Committee (Inasgoc) Francis Wanandi. - Bisnis/Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh

Bisnis.com, JAKARTA -- Dulu, orang-orang lebih mengenal laki-laki murah senyum ini sebagai pemilik sekaligus CEO dari PT Sarana Karya Utama (Sakatama) dan Gold's Gym. 

Namun, kini masyarakat lebih mengenal Francis Wanandi sebagai Ketua Deputi II Indonesia Asian Games Organizing Committee (Inasgoc) atau yang akrab disebut sebagai Panitia Nasional Penyelenggara Asian Games 2018

Dia bercerita awalnya tidak ditunjuk sebagai Ketua Deputi II, melainkan sebagai orang yang bertugas mempromosikan Asian Games 2018.

"Awalnya, saya ditunjuk oleh Ibu Rita Subowo [Ketua Komite Olahraga Indonesia] untuk mempromosikan Asian Games 2018," tutur Francis saat ditemui di Ruangan Ketua Deputi II Inasgoc, fX Sudirman lantai 12, Senayan, Jakarta Pusat, Jumat (31/8/2018).

Namun, setelah peralihan jabatan dari Rita kepada Erick Thohir, jabatannya pun berubah. Oleh Erick, dia ditunjuk sebagai Kepala Deputi II Asian Games 2018.

"[Erick Thohir] bilang 'terlalu kecil kamu pegang satu departemen'. Jadi, diangkatlah sama dia [Erick Thohir] menjadi Ketua Deputi II untuk memegang beberapa departemen," jelas Francis sambil tertawa.

Tiga tahun menjabat sebagai Ketua Deputi II Inasgoc 2018, dia harus membawahi Departemen Komunikasi, Departemen Ceremony dan Event, Departemen Revenue, Departemen Ticketing, Departemen City Beautifications, Gamelock and Activation, dan Departemen Kreatif.

Dengan banyaknya departemen yang dipimpin tentu menimbulkan kesulitan tersendiri. Tantangan terbesar adalah koordinasi dalam menyukseskan ajang olahraga terbesar se-Asia itu, terutama dalam hal perizinan.

Izin yang dimaksud adalah izin untuk melakukan acara kepada pemerintah daerah atau pun pemerintahan pusat.

Francis mencontohkan pelaksanaan torch relay di beberapa daerah Indonesia. Kegiatan itu memerlukan koordinasi lintas departemen, juga izin dari pemerintah pusat dan daerah.

Dia juga bercerita mengenai perjuangan kerasnya untuk menggandeng mitra resmi Asian Games 2018. Pasalnya, awalnya banyak perusahaan yang menolak dan hal itu membuatnya agak kecewa.

"Awalnya, kepercayaan perusahaan terhadap Asian Games itu agak kurang. Tapi kami sebagai pelaksana harus aktif. Ada juga yang tertarik tetapi mereka tidak melihat value-nya tinggi," tutur Francis.

Tak kehilangan akal, laki-laki kelahiran 18 Oktober 1969 ini bersama para petinggi Inasgoc lainnya akhirnya meminta bantuan pemerintah untuk menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk masuk sebagai official partner.

"Diawali dari PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. Mereka pahlawan juga sih karena memberanikan diri untuk berpartisipasi dalam jumlah yang cukup lumayan," ungkapnya.

Kerja keras itu terbukti tak sia-sia karena sekarang mitra resmi Asian Games 2018 sudah semakin banyak. Terhitung ada 45 perusahaan yang tergabung menjadi official partner.

Di antaranya adalah PT Astra International Tbk., PT Pertamina (Persero), Grab, Canon, Samsung, Aqua, PT PLN (Persero), Aice, Transjakarta, PT Asuransi Jiwasraya (Persero), dan PT Angkasa Pura II (Persero).

"Itu hasil kerja keras seluruh panitia pelaksana Inasgoc, termasuk tim saya. Pak Jusuf Kalla juga banyak membantu untuk mendekatkan pengusaha-pengusaha Indonesia. Akhirnya ya alhamdulillah, ya dapat dikatakan record juga," pungkas Francis.

Tag : asian games 2018
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top