Profil Jonatan Christie, Pebulu Tangkis Religius yang Jarang Dapat Libur

Profil Jonatan Christie, Pebulu Tangkis Religius yang Jarang Dapat Libur
Andhika Anggoro Wening | 28 Agustus 2018 18:12 WIB
Pemain tunggal putra Indonesia Jonatan Christie, memberi hormat kepada bendera Merah Putih setelah mengalahkan pemain Chinese Taipei Chou Tien Chen, pada laga final tunggal putra bulu tangkis Asian Games 2018 di Istora Senayan Jakarta, Selasa (28/8). Jonatan Christie meraih emas setelah menang dengan skor 21-18, 20-22 dan 21-15. - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Jonatan Christie kembali membuat harum nama Indonesia setelah meraih medali emas tunggal putra bulu tangkis Asian Games 2018. Di partai final, pria yang akrab dipanggil Jojo mengalahkan Chou Tien Chen dari Chinese Taipei (Taiwan) dengan skor 21-18, 20-22 dan 21-15, Selasa (28/8/2018) di Stadion Istora.

Sebelum emas Asian Games, Jojo sebelumnya meraih emas SEA Games 2017 di Malaysia. Emas Asian Games yang diraih Jojo mengikuti jejak Taufik Hidayat pada 12 tahun lalu di Doha, Qatar.

Siapa yang menyangka, Jonatan berkarir di bulu tangkis mulai dari pendidikan Sekolah Dasar. Sekolahnya kala itu menganjurkan kepada setiap murid untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Sang Ayah yang merupakan atlet basket kemudian menyuruh Jojo untuk mengikuti eskul bulu tangkis. Jojo yang saat itu berumur 6 tahun mengikuti saja keinginan papanya tersebut dan pada tahun-tahun pertamanya berlatih, Jojo mulai berlatih mulai pukul 4 pagi.

Ternyata saat bergabung dengan klub bulu tangkis bakat besarnya mulai tercium oleh sang pelatih.

"Papa dulu adalah atlet bola dan basket," terang Jojo. Akan tetapi sang Ayah menyarankan, "Kalau mau go internasional harus dari bulu tangkis karena kita lahir di Indonesia. Kita harus pintar-pintar memilih olah raga yang jago dan mendapatkan pembinaan yang cukup bagus."

Selain keluarga, dalam buku Mereka Muda Mereka Berkarya, pelatih Hendry Saputra dan pebulu tangkis senior Simon Santoso, juga turut berpengaruh dalam karir Jojo.

Coach Hendry adalah pelatih Jojo di klub Tangkas dan juga pelatih di pelatnas. Jojo yang lahir pada 15 September 1997 merasa cocok dengan pola kepelatihan yang diterapkan Hendry. Menurutnya, selain bisa mengembangkan kemampuan, coach Hendry selalu menyelipkan perumpamaan dan firman Tuhan, selalu membandingkan perumpamaan dari Alkitab dengan dunia nyata.

Jojo menyadari, hidup memang butuh uang tapi uang bukan segalanya. "Yang terpenting, kita harus bahagia, bersyukur dan memberi cinta kasih kepada sesama."

Sekarang ini, Jojo telah menjadi atlet nasional dan harus tinggal di asrama. Kesulitan saat berjuang menjadi atlet nasional adalah rasa kangen terhadap keluarganya, terutama sang mama. "Pelatih saya keras dan tegas. Jika ada waktu, beliau selalu meminta saya untuk berlatih. Jadi saya jarang dapat libur."

Dalam hidup,prinsip dasar Jojo adalah mengandalkan dan berserah diri utuh penuh kepada Tuhan, jangan mengandalkan orang lain, siapapun dan sehebat apapun orang itu. "Jika ada teman atau orang lain yang mengandalkan orang lain lagi, sepertinya hal tersebut tidak punya tanggung jawab."

Selain itu, Jojo juga menggunakan pedoman hidup ora et labora (berdoa dan bekerja) dalama menjalani hidupnya. Oleh karena itu, ia mengusahakan untuk rutin pergi ke gereja dan menyempatkan diri merenungkan firman Tuhan.

"Pelatih saya pernah bilang, 'Apa yang kamu tuju harus kamu doakan. Tak bisa kerja keras saja, karena tanpa doa ya percuma'," akunya. Ia melanjutkan, "Dulu saat diberi kemenangan sama Tuhan, spiritualitas saya sempat meredup. Saat kalah, saya merasa ingin dekat lagi dengan Tuhan. Ini hal yang menurut saya penting, satu proses menuju kesuksesan."

Atas hal ini, kemudian Jojo pun berubah dan mulai menata kehidupannya. Runner up Korea Selatan Open 2017 ini kemudian berlatih keras untuk mendapatkan hasil yang terbaik dalam karirnya. Bagi Jojo, menjadi yang terbaik tidak bisa ditawar-tawar lagi jika ingin menjadi juara.

"Jangan pernah tanya kenapa saya kalah, saat orang lain menang. Karena saya nggak pernah bertanya mengapa saya menang saat orang lain kalah."

Tag : bulutangkis
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top