Canggihnya Masjid Berjalan pada Olimpiade 2020 di Tokyo

Masjid Berjalan ini serupa dengan robot transformer yang wujud aslinya berupa mobil. Jika hendak digunakan, masjid yang terbuat dari truk kontainer dengan bobot 25 ton ini akan melebar dan meluas di kedua sisi.
Dewi Andriani | 25 Agustus 2018 03:45 WIB
Masjid berjalan (mobile mosque) yang akan digunakan pada penyelenggaraan Olimpiade 2020 di Tokyo, Jepang. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA  Olimpiade 2020 siap digelar di Tokyo, Jepang, pada 24 Juli hingga 9 September. Ribuan atlet dan penonton dari berbagai negara dengan latar belakang budaya dan kepercayaan yang berbeda akan hadir dalam perhelatan akbar ini, salah satunya umat Islam.

Sebagai tuan rumah, Negeri Matahari Terbit tersebut telah mempersiapkan infrastruktur pendukung pariwisata bagi para atlet dan tamu muslim yang ingin menunaikan ibadah salat dengan menghadirkan mobile mosque atau masjid berjalan.

Masjid berjalan ini serupa dengan robot transformer yang wujud aslinya berupa mobil. Jika hendak digunakan, masjid yang terbuat dari truk kontainer dengan bobot 25 ton ini akan melebar dan meluas di kedua sisi hingga mencapai 48 m2 dan mampu menampung 50 jemaah. Prosesnya pun terbilang cukup cepat, hanya sekitar 5 menit.

                                                          Tokyo siap menggelar Olimpiade 2020. - Reuters/Yuya Shino

Fasilitas ibadah berwarna putih biru tersebut dilengkapi dengan empat unit pengatur suhu ruangan, karpet, pencahayaan, atap, dan anak tangga serta tempat untuk berwudu. Air wudu yang telah digunakan nantinya kembali diolah dengan teknologi buatan Jepang sehingga lebih ramah lingkungan.

Sebagai masjid yang sering berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, tentu saja arah kiblatnya akan berubah-ubah. Oleh karena itulah, masjid berjalan ini dirancang dengan sistem yang dapat menentukan arah kiblat sehingga para jemaah yang akan beribadah dapat tetap mengarah ke kiblat.

Inovasi pembuatan masjid berjalan ini merupakan ide dari seorang pengusaha Jepang yang juga CEO Yasu Project, Yasuhura Inoue, sejak 4 tahun lalu. Ide ini bermula dari kekhawatirannya terhadap para atlet dan umat muslim yang tidak dapat menunaikan ibadah karena tidak adanya masjid yang berada di dekat arena pertandingan.

Masjid berjalan ini dirancang dengan sistem yang dapat menentukan arah kiblat

Padahal umat muslim harus menjalankan ibadah lima kali dalam sehari sehingga akan merepotkan jika harus mencari-cari tempat ibadah keluar dari lokasi pertandingan. Apalagi, jumlah masjid di Jepang terbilang masih sangat minim karena Islam merupakan agama minoritas di negeri sakura tersebut.

“Saya buat masjid berjalan ini karena saya banyak berteman dengan orang muslim. Apalagi umat muslim merupakan yang terbanyak di dunia, pasti akan banyak tamu muslim yang hadir pada Olimpiade 2020. Inovasi ini juga  menjadi bentuk keramahtamahan kami kepada atlet dan umat muslim yang ingin menjalankan ibadah salat lima waktu,” ujarnya.

Masjid berjalan ini dirancang dengan teknologi tahan gempa, mengingat Jepang sebagai salah satu negara yang rawan akan bencana gempa. Menurutnya, mobil masih bisa bertahan jika terjadi gempa hingga 5 atau 6 scala Richter.

Rencananya ada 10 unit masjid berjalan yang disediakan di berbagai titik lokasi pertandingan Olimpiade 2020. Saat ini, pihaknya masih dalam proses pengajuan kepada panitia penyelenggara. Jumlah 10 unit tersebut, menurutnya, sudah mencukupi, apalagi masjid ini akan berpindah-pindah sesuai dengan kebutuhan jemaah.

Yasuhura mengatakan awalnya masjid berjalan ini akan dikirim untuk perhelatan Asian Games 2018 di Indonesia. Namun, karena keterbatasan waktu, niat tersebut diurungkan. Pasalnya, masjid berjalan ini baru saja diluncurkan dan diperkenalkan pertama kali pada 23 Juli di Stadion Toyota, Tokyo, hanya berjeda kurang dari 1 bulan sehingga sulit untuk dikirim, apalagi dengan bobot yang sangat berat hingga mencapai 25 ton.

Meski demikian, pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk menjalin kerja sama dengan berbagai negara yang ingin memanfaatkan kecanggihan teknologi Jepang ini. Menurutnya, sejak diluncurkan pada 25 Juli lalu sudah ada sedikitnya 35 negara yang tertarik dengan konsep dari masjid berjalan ini.

“Truk ini sebetulnya multifungsi bisa dijadikan sebagai masjid untuk salat, bisa juga dijadikan sebagai restoran halal karena bentuknya yang luas, mudah berpindah-pindah, dan dapat berubah dengan cepat. Jadi, setelah Olimpiade nanti, saya berharap teknologi ini bisa dipakai dan dikembangkan untuk berbagai kebutuhan di sejumlah negara,” ujarnya.

Tag : olimpiade
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top