UMKM Partisipan Asian Games 2018 Mengeluh Sepi Pengunjung

Ramainya perhelatan Asian Games 2018 menjadi momentum bagi pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Ibu Kota.
Feni Freycinetia Fitriani | 24 Agustus 2018 19:29 WIB
Pealku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Ibu Kota di ajang Asian Games 2018./JIBI/BISNISFeni Freycinetia -

Bisnis.com, JAKARTA - Ramainya perhelatan Asian Games 2018 menjadi momentum bagi pelaku usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Ibu Kota.

Pebisnis tentu berharap kedatangan puluhan ribu wisatawa  domestik serta atlet, ofisial, wisatawan asing ke Gelora Bung Karno Senayan bisa menjadi ladang untung bagi mereka selama 18 Agustus hingga 2 September 2018.

Harapan tersebut ternyata tak sesuai dengan kenyataan. Meski diberikan tempat berjualan berupa tenda-tenda yang layak, banyak pelaku UMKM belum bisa merasakan manisnya cuan dari Asian Games 2018.

Hal itu yang dirasakan oleh Edo pemilik Cool Magnet Kulkas. Pria berusia 39 tahun tersebut memproduksi aneka magnet atau tempelan kulkas serta pin dengan desain karakter populer.

Dia membuka booth di zona Kaka yang terletak dekat dengan stadion GBK Senayan.

Berdasarkan pantauan Bisnis, sedikit sekali orang yang lalu-lang di zona tersebut. Padahal cukup banyak booth UMKM yang memajang karya kerajinan tangan dan kuliner.

Menurut Edo, sepinya pengunjung di Zona Kaka terjadi karena lokasi yang kurang strategis dibandingkan zona lain.

"Zona Bhin-Bhin itu paling ramai karena lokasinya dekat pintu masuk 5. Pengunjung seperti ngumpul di sana semua," katanya ketika ditemui Bisnis, Jumat (24/8/2018).

Dia menilai lokasi tersebut sangat berpengaruh terhadap ramainya zona, khususnya ketika siang hari. Menurutnya, sebagian besar pengunjung malas berjalan karena jaraknya cukup jauh dan  cuaca yang  panas.

Berbeda dengan Zona Bhin-Bhin, Zona Atung dan Kaka terletak jauh dari arena pertandingan olah raga yang diminati penonton.

"Zona Bhin-Bhin itu dekat dengan arena badminton, renang, dan soft ball. Beda dengan Kaka dan Atung yang berada di sekitar stadion," ungkapnya.

Meski demikian, dia mengaku tak menyesal ikut serta memeriahkan perhelatan Asian Games 2018. Apalagi, tak ada biaya untuk penyewaan booth yang dibebankan secara langsung. Pasalnya, panitia menerapkan sistem bagi hasil kepada pelaku UMKM yang membuka stand di GBK yakni 30% dari total pendapatan setiap hari.

"Kalau jualan lagi banyak, ya kami tinggal hitung saja 30%. Namun, ketika lagi sepi pengunjung enggak nyesek-nyesek amat lah," ucapnya.

Edo menjual beraneka ragam magnet kulkas dan pin dengan desain menarik, misalnya super hero, kartun, musisi, hingga foto merek-merek jadul atau jaman dulu. Sekeping magnet kulkas dijual Rp25.000 sementara pin Rp15.000 per buah.

Meski demikian, dia tak berani menjual magmet atau pin maskot atau tulisan bertema Asian Games 2018.

"Enggak berani saya, soalnya menyangkut hak cipta ya. Apalagi di sini ada official merchandise store. Banyak yang nanya sih, tapi saya enggak bikin," ungkap Edo.

 

 

Tag : asian games 2018
Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top