Atlet Panahan Dellie Threesyadinda, Putri dari Salah Satu Trio Srikandi Indonesia

Buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Pepatah itu seperti cocok disangkutkan kepada atlet panahan yang terkenal dengan kecantikan dan proporsi tubuhnya yang aduhai ini.Dinda, panggilan akrab Dellie Threesyadinda, merupakan putri dari mantan atlet panahan wanita Indonesia, Lilies Handayani yang namanya sudah tidak asing di kancah olahraga panahan Indonesia.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 21 Agustus 2018 05:52 WIB
Atlet panahan nasional asal Jawa Timur, Dellie Threesyadinda. - Antara/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, JAKARTA—Buah tidak pernah jatuh jauh dari pohonnya. Pepatah itu seperti cocok disangkutkan kepada atlet panahan yang terkenal dengan kecantikan dan proporsi tubuhnya yang aduhai ini.

Dinda, panggilan akrab Dellie Threesyadinda, merupakan putri dari mantan atlet panahan wanita Indonesia, Lilies Handayani yang namanya sudah tidak asing di kancah olahraga panahan Indonesia.

Jika Anda melihat acara opening ceremony Asian Games 2018 pada Sabtu malam (18/8/2018), sosok Lilies Handayani merupakan salah satu dari delapan mantan atlet kebanggaan Indonesia yang membawa bendera Olympic Council of Asia untuk diserahkan kepada petugas Pasukan Pengibar Bendera Pusaka.

Lilies merupakan atlet panahan Indonesia bersama dua rekannya Nurfitriyana Saiman dan Kusuma Wardhani dari nomor beregu putri berhasil mempersembahkan medali perak untuk Indonesia di Olimpiade Seoul 1988. Karena itu merupakan medali perak pertama Indonesia yang diraih cabang olahraga untuk Indonesia pada level Olimpiade, ketiganya pun mendapatkan julukan Trio Srikandi Indonesia.

Darah atlet juga Dinda dapatkan dari sang Ayah, atlet pencak silat, Denny Trisyanto yang kini bekerja sebagai coach untuk tim panahan Indonesia.

Perempuan lulusan Universitas Airlangga Surabaya ini, sudah dikenalkan dunia panahan sejak kecil oleh sang ibu. Saat dia masih berusia 5 tahun, ibunya memberikannya hadiah busur serta panah kecil dan mengajarkannya berlatih memanah jarak 5 meter di belakang rumahnya.

Sejak saat itu, perempuan kelahiran Surabaya, 12 Mei 1990 memutuskan untuk mengikuti jejak ibunya. Dia pun debut sebagai atlet panahan pada 2002. Sama seperti sang ibu, Dinda sukses meraih prestasi dari nomor compound individu maupun beregu, seperti medali perunggu di Asian Grand Prix 2009 dan emas di Asian Grand Prix 2013.

Selain itu, Dinda juga pernah meraih medali perak di Kejuaraan Panahan Dunia 2007, perunggu di Kejuaraan Dunia Panahan 2016, dan perunggu di SEA Games 2017.

Namun penampilannya Dinda yang paling diingat adalah saat dia berkompetisi melawan ibunya sendiri, Lilies Handayani pada ajang Grand Prix Panahan Asia 2007 di Isfahan, Iran.  Namun, meski sudah berusaha sekeras mungkin ibunya berhasil mengalahnya dengan perolehan poin 107-105.

Dinda awalnya berkompetisi dalam panahan nomor recurve sebelum beralih ke compound untuk bertanding bersama ibu dan bibinya, Lilies Heliarti. Trio keluarga ini berhasil memenangkan medali perak dalam kompetisi beregu pada ajang Piala Dunia 2007 di Dover, Inggris.

Selain Dinda, adiknya, Della Adisty Handayani and Putera Irvaldi Ananda juga bergabung sebagai atlet panahan Indonesia.

Tag : asian games 2018, Panahan
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top