Sri Wahyuni Agustiani, Srikandi Angkat Besi yang Berhasil Persembahkan Perak untuk Indonesia

Sri Wahyuni Agustiani, dara kelahiran Bandung, 13 Agustus 1994 merupakan atlet elit angkat besi Indonesia yang berhasil mempersembahkan perak untuk kelas 48 kilogram pada Asian Games 2018.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 21 Agustus 2018 04:57 WIB
Lifter Sri Wahyuni Agustiani - Reuters/Kai Pfaffenbach2

Bisnis.com, JAKARTA—Sri Wahyuni Agustiani, dara kelahiran Bandung, 13 Agustus 1994 merupakan atlet elit angkat besi Indonesia yang berhasil mempersembahkan perak untuk kelas 48 kilogram pada Asian Games 2018.

Sri Wahyuni meraih peringkat kedua setelah berhasil mengumpulkan total angkatan 195 kilogram di mana dia tertinggal total angkatan sebesar 4 kilogram dari atlet angkat besi Korea Utara, Di Song Gum pada kelas yang sama yakni 199 kilogram.

Perempuan yang memiliki postur tubuh yang terbilang kecil ini—dengan tinggi badan 147 sentimeter dan berat badan 47 kilogram—sudah mengenal dunia olahraga angkat besi sejak masih berusia 13 tahun.

Yuni, begitu dia dipanggil, sering mengikuti kejuaraan angkat besi tingkat lokal dan nasional sejak saat itu, tak mengecewakan, dia berhasil memperoleh medali emas untuk kejuaraan-kejuaraan tersebut.

Salah satu yang paling diingat adalah ketika dia sukses menyabet medali emas pada ajang Islamic Solidary Games 2013 di Palembang.

Dia makin dikenal saat berhasil meraih medali emas di SEA Games 2013 Myanmar dengan total angkatan 188 kilogram untuk kelas 48 kilogram.

Tak berhenti di situ, potensinya sebagai ‘srikandi’ makin terlihat ketika dia berhasil meraih edali perak pada kejuaraan Asia untuk kelas berat 48 kilogram dengan total angkatan 176 kilogram.

Lalu dia berhasil meraih dua medali emas dan satu perak di ajang Kejuaraan Dunia Junior Angkat Besi Rusia 2014. Dia juga berhasil meraih perunggu pada Kejuaraan Dunia 2014 di Almaty, Kazakhstan, untuk kelas 48 kilogram pada kategori Clean and Jerk dengan total angkatan 106 kilogram.

Debut di Asian Games 2014 Incheon, Korea Selatan, Yuni berhasil membawa pulang medali perak untuk Indonesia dengan total angkatan 187 kilogram mengalahkan Mahliyo Togoeva dari Uzbekistan.

Perempuan cantik yang terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan hukum Universitas Bhayangkara, Bekasi ini sempat turun prestasinya ketika dia gagal membawa pulang medali pada Kejuaraan Dunia 2015 di Houston, Texas, Amerika Serikat.

Kegagalannya tersebut sempat membuat namanya dipertimbangkan untuk melangkah mewakili Indonesia pada Olimpiade Rio de Janerio 2016. Namun,  Persatuan Angkat Besi dan Berat Seluruh Indonesia (PABBSI) tak lantas mencoret namanya.

PABBSI yang percaya pada potensi yang dimiliki putri dari pasangan suami istri Candiana dan Rosita ini kemudian memperbaiki pola latihan Yuni dan dia pun mendapatkan ‘tiket’ mewakili Indonesia untuk debut di Olimpiade multievent olahraga terbesar di dunia tersebut.

Tak ingin kembali membuat Indonesia kecewa, Yuni tampil apik dan dia berhasil mengharumkan nama bangsa dengan memperoleh medali perak untuk cabang olahraga angkat besi kelas 48 kilogram dengan total angkatan 192 kilogram.

Medali perak yang diperoleh Yuni kemarin merupakan medali perak kedua yang diperoleh Yuni pada ajang pekan olahraga terbesar se Asia ini. Srikandi ini pun sempat meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena tidak berhasil mempersembahkan medali emas.

"Saya minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dan saya akan mencoba pada kesempatan yang lain," kata dia, Senin sore.

Namun, meski hanya berhasil meraih medali perak, prestasi Yuni perlu diberikan apresiasi karena dengan memperoleh medali perak, Indonesia tetap menjadi juara bertahan pada cabang olahraga angkat besi wanita kelas 48 kilogram.

Tag : asian games 2018
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top