Lalu Muhammad Zohri, Berlari dari Pinggiran

Sudah berapa kali Anda mendapatkan tautan atau info tentang Lalu? Lalu apa? Lalu siapa? Iya, Lalu Muhammad Zohri, anak Nusa Tenggara Barat (NTB) yang baru saja memenangi kejuaraan atletik junior di nomor paling bergengsi, 100 meter putra.
Alois Wisnuhardana, Tenaga Ahli Madya Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden | 12 Juli 2018 15:24 WIB
Alois Wisnuhardana

Sudah berapa kali Anda mendapatkan tautan atau info tentang Lalu? Lalu apa? Lalu siapa? Iya, Lalu Muhammad Zohri, anak Nusa Tenggara Barat (NTB) yang baru saja memenangi kejuaraan atletik junior di nomor paling bergengsi, 100 meter putra.

Pagi ini, 90% grup Whatsapp (WAG) saya berisi tautan-tautan tentangnya. Ada yang sudah mendapatkan hadiah payung atau mug, gara-gara postingan yang berulang-ulang di satu group WA saja.

Zohri memang fenomenal. Dia menambah kegembiraan rakyat Indonesia hari-hari ini.

Makanya tak heran, bertubi-tubi video itu dibagikan, dikisahkan ulang. Semua orang senang.

Lalu Muhammad Zohri./Reuters

Akan tetapi, ada kisah tersembunyi yang luput dari perhatian orang. Jika Anda sudah menonton videonya, terlihat Zohri memenangi lomba itu dari lintasan terluar, yakni lane 8. Jalur ini bukanlah lintasan unggulan.

Aturan Federasi Asosiasi Atletik Internasional (IAAF) nomor 166.3 menetapkan lintasan 3, 4, 5, dan 6 yang berada di tengah adalah lintasan unggulan, sedangkan 1,2, 7, dan 8 adalah lintasan cere. Teri. Ibaratnya, yang bertarung dari lintasan itu cuma pelari kebetulan belaka, peserta penggembira, pelari pelengkap.

Mereka yang berada di lintasan tengah, bisa melirik ke kanan dan ke kiri para pesaingnya dengan lebih mudah. Dengan kerlingan mata, mereka bisa melihat seberapa kuat pesaingnya melempar kaki ke depan. Sementara itu, yang di pinggir, perlu usaha ekstra.

Dalam setiap race atau populer disebut heat untuk mencapai final, mereka yang dapat mencapai waktu tercepat akan ditaruh di lintasan paling strategis ini.

Lalu Muhammad Zohri diapit Eric Harrison dan Anthony Schwartz./IAAF

Oleh karena itu, dalam setiap kejuaraan atletik 100 meter yang resmi, junior ataupun senior, nyaris tak pernah ada pelari yang berhasil memenangkan lomba dari lintasan pinggiran.

Carl Lewis, Ben Johnson, Asafa Powell, atau pelari 100 m yang paling top sekarang, Usain Bolt, selalu memenangkan lomba dari lintasan tengah. Biasanya, lintasan ini dihuni oleh atlet AS, Afrika, atau Amerika Tengah.

Asia berada di tepian. Selalu begitu.

Maka, ketika Zohri memulai final dari lintasan 8, tak ada satupun yang memperhatikan. Juga kamera. Semua tertuju pada duet AS Anthony Schwartz dan Eric Harrison yang berada di lintasan 3 dan 4.

Begitu pistol meledak di udara, semua pelari mengerahkan semua tenaga ke kaki-kaki mereka. Secara kasat mata, tiada yang lebih menonjol. Tiada yang tercecer.

Namanya juga sudah final. Berebut medali emas. Berebut podium terbaik. Yang bertanding di situ adalah crème de la crème. Terbaik dari yang terbaik.

Dalam 20 meter terakhir, semua pelari masih sejajar. Tapi Zohri kemudian menyentuh garis finis pertama dengan catatan waktu 10,18 detik.

Schwartz dan Harrison di urutan berikutnya dengan catatan waktu sama, 10,22 detik.

Zohri sempat bingung ketika namanya menjadi pemuncak. Bahkan, ketika duet pelari AS sudah memegang bendera, dia tak kunjung mengibarkan Merah Putih.

Lalu Muhammad Zohri akhirnya mendapatkan Merah Putih./IAAF

 

Mungkin karena memang dia atau ofisial tak menyiapkannya. Baru beberapa menit kemudian Merah Putih berkibar.

Kemenangan Zohri adalah kemenangan terbaik yang pernah dicapai oleh atlet Indonesia di pentas atletik dunia. Boleh jadi pula, dia adalah segelintir pelari yang dapat memenangkan lomba lari cepat ini dari lintasan pinggiran.

Dari pinggiran, Zohri mengukir namanya ke tengah-tengah arena. Kini, dia sedang menyiapkan diri untuk bertanding di ajang Asian Games. Di negerinya sendiri.

Tag : atlet
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top