Lalu Muhammad Zohri, Penerus Tradisi Lari Cepat Indonesia Setelah Purnomo, Mardi Lestari dan Suryo Agung

Atlet atletik Indonesia Lalu Muhammad Zohri berhasil meraih gelar juara pada nomor lari 100 meter putra. Dunia atletik mengenal nomor ini sebagai nomor bergengsi, dan Zohri berhasil menggapainya sebagai juara dunia, meski baru level Kejuaraan Dunia Atletik Junior U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia, Rabu (11/07/2018) malam waktu setempat.
Saeno | 12 Juli 2018 11:23 WIB
Lalu Muhammad Zohri - IAAF

Bisnis.com, JAKARTA - Di tengah ingar bingar politik dalam negeri menjelang pilpres 2019, atlet muda Lalu Muhammad Zohri membuat dunia berpaling ke Indonesia.

Atlet atletik Indonesia Lalu Muhammad Zohri berhasil meraih gelar juara pada nomor lari 100 meter putra. Dunia atletik mengenal nomor ini sebagai nomor bergengsi, dan Zohri berhasil menggapainya sebagai juara dunia, meski baru level Kejuaraan Dunia Atletik Junior U-20 yang berlangsung di Tampere, Finlandia, Rabu (11/07/2018) malam waktu setempat.

Capaian Zohri di Tampere dengan catatan waktu 10,18 detik hanya terpaut satu detik dari prestasi seniornya, Suryo Agung Wibowo, yang mengukir rekor nasional di angka 10,17 detik. 

Tampilnya Zohri meraih trofi level dunia membuatnya menjadi atlet andalan Indonesia seperti pernah dicapai atlet pelari cepat Indonesia sebelumnya seperti Purnomo, Sumardi, dan Suryo Agung Wibowo.

Purnomo pernah mencatat sejarah sebagai satu-satunya  pelari cepat Asia yang lolos ke babak semifinal Olimpiade Los Angeles 1984.

Sprinter bernama lengkap Mohammad Yuhdi Wijaya Purnomo itu mengikuti lomba 100 meter dan 200 meter. Saat penyisihan pertama nomor lari 100 meter, ia mencatat waktu 10,40 detik. Pada babak perempar final catatan waktunya menjadi 10,43 detik. Di semifinal, kecepatan lari Purnomo tercatat mencapai 10,51 detik.

Betapa pun, atlet asal Purwokerto itu telah mencatat prestasi gemilang hingga level internasional.

Era keemasan Purnomo berakhir dengan munculnya pelari cepat asal Sumut, Mardi Lestari. Pelari bernama lengkap Afdiharto Mardi Lestari ini adalah atlet lari Indonesia kelahiran Binjai 1 Juli 1968. Ia sempat tercatat sebagai manusia tercepat se Asia. Seperti halnya Purnomo, Mardi juga berhasil masuk semifinal Olimpiade saat digelar di Seoul pada 1988. Saat itu Mardi adu kecepatan lari dengan atlet lari top dunia Ben Johnson asal Kanada.

Mardi berhasil melewati rekor lari Purnomo dan mencetak rekor 10.20 detik. Rekor ini bertahan selama 20 tahun sebelum dipecahkan Suryo Agung Wibowo pada tahun 2009 dengan catatan 10.17 detik.

Suryo Agung Wibowo, kelahiran Surakarta, menjadi manusia tercepat se Asia Tenggara atas rekor yang dibuatnya pada Sea Games 2009. Catatan waktu 10.17 detik yang dibuat Suryo Agung memecahkan rekor Sea Games atas nama Nakhon Ratchasima dengan catatan waktu 10.25 detik.

Kini, Zohri muncul sebagai harapan baru Indonesia di nomor lari cepat 100 meter putra.

Atlet asal Lombok, Nusa Tenggara Barat itu, dalam keterangan tertulis Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) yang diterima Antara di Jakarta, Kamis, berhasil mengalahkan dua atlet Amerika Serikat Anthony Schwartz dan Eric Harrison.

Kedua atlet Amerika Serikat itu harus puas menempati peringkat dua dan tiga dengan catatan waktu masing-masing 10,22 detik.

Catatan waktu Lalu 10,18 detik itu sekaligus memecahkan rekor nasional junior atas namanya sendiri 10,25 detik.

"Sangat bangga sekali terhadap apa yang saya dapatkan hari ini. Ini sangat luar biasa bagi saya," ujar Lalu menyusul pencatatan namanya dalam sejarah cabang olahraga atletik Tanah Air.

Lalu mengatakan pencapaiannya dalam Kejuaraan Dunia Atletik U-20 atau sebelumnya disebut Kejuaraan Dunia Junior sebagai bagian dari persiapan mengikuti perlombaan atletik Asian Games 2018 di Jakarta.

Kementerian Pemuda dan Olahraga memberikan penghargaan atas pencapaian Lalu Muhammad Zohri di Finlandia.

"Lalu pemuda yang mengharumkan nama bangsa dengan potensi luar biasa. Setelah tunaikan suatu tugas, segera mulai menyongsong tugas baru dengan optimisme. Kepada Tuhan kita berharap setelah berusaha optimal," kata Deputi II Bidang Pengembangan Pemuda Asrorun Niam Sholeh dalam keterangan Kementerian Pemuda dan Olahraga yang diterima Antara.

Prestasi Zohri, demikian nama belakangnya terpampang di dada saat Kejuaraan Dunia Junior berlangsung di Tampere, Finlandia telah memperlihatkan prestasinya.

IAAF mencatatnya sebagai momen bersejarah, karena baru kali ini atlet Indonesia berhasil meraih medali, bahkan sekaligus medali emas, di level kejuaraan dunia. Ke depan, kita nantikan bagaimana Zohri menorehkan namanya pada Asian Games 2018 mendatang. 

Sumber : Antara/IAAF/Wikipedia/Internet

Tag : atletik
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top