Pengembangan Olahraga Masa Depan Ini Terhambat Stigma

Meskipun jadi olahraga masa depan, tapi pemahaman masyarakat secara umum terhadap e-sports masih jadi salah satu penghambat, selain infrastruktur. Stigma negatif telanjur menempel pada olahraga elektronik ini.
M. Taufikul Basari | 23 Februari 2018 10:31 WIB
Gamer wanita Monica "Nixia" Carolina - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Meskipun jadi olahraga masa depan, tapi pemahaman masyarakat secara umum terhadap e-sports masih jadi salah satu penghambat, selain infrastruktur. Stigma negatif telanjur menempel pada olahraga elektronik ini.

Stigma seperti itu juga diterima Bagi Muhammad Rizky, pemain profesional Dota 2 dengan nama panggilan inYourdreaM, ketika awal-awal menekuni e-sports.

“Awalnya semua keluarga tidak mendukung saya aktif di dunia e-sport, tetapi karena akhir-akhir ini sering menang turnamen besar mereka akhirnya mendukung,” ujar mantan anggota tim BOOM.ID ini.

Rizky menekuni esport sejak awal 2014, dengan main di warung internet sebagai hobi. Namun, hobi itu berbuah gelimang uang setelah memenangi beberapa turnamen.

“Saya sekarang sudah berkuliah tetapi mengambil cuti karena intens berlatih menghadapi turnamen internasional di Jakarta dalam waktu dekat,” ujar pria yang menurut esportsearnings.com telah meraih US$7.900 dari empat turnamen terakhir.

Terakhir ia jadi runner up APAC Predator Indonesia Qualifiers bersama BOOM.ID dengan hadiah US$25.000 dibagi lima anggota tim. Pendapatan Rizky juga datang dari bayaran sebagai gamer pro dan endorse produk via Instagram.

Hobi juga jadi pengenalan pertama Adit ‘Aville’ Rosenda pada esports. Sebagai pemain pro, ia tak perlu mengeluarkan biaya perangkat permainan karena sudah disediakan oleh timnya, Evos.

Kariernya sebagai pemain profesional dimulai 1,5 tahun lalu sejak masuk tim Evos, meski hobi main esports sudah dilakukan sejak 5 tahun terakhir. Jaminan ekonomi dari olahraga ini membuatnya mantap untuk terus menekuni Dota 2.

Di tim Evos e-Sports Indonesia, Aldean Tegar adalah yang mengatur segala kebutuhan pemain. Aldean menjabat sebagai general manager, tinggal di satu base camp bersama lima orang pemain tim dan satu orang manajer.

“Nah, kesehariannya itu saya yang atur, dari mulai jadwal bangunnya kapan, kegiatan setiap harinya seperti apa, itu saya yang atur,” katanya.

Kerasnya latihan sering membuat pemain banyak mengonsumsi minuman energi. Namun, Aldean mengaku, pihaknya mengimbangi pola latihan tim dengan olahraga  fisik dan libur 5 hari dalam sebulan.

Esports juga tak melulu jadi dunia milik pria. Erika Su, misalnya, termasuk dalam daftar gamer perempuan Indonesia yang terkenal.

Perempuan ayu ini memang hobi memainkan esports sejak taman kanak-kanak. Keluarganya pun penghobi permainan elektronik, sehingga tak ada hambatan ketika gamer sekaligus youtuber menekuni esports.

“Untuk game daring sendiri aku pertama kali main ketika kelas 4 Sekolah Dasar. Dahulu aku mainnya game daring yang servernya di Amerika. Jadi bahasanya Inggris semua. Kalau mulai lebih tekun lagi hingga live streaming dan buat konten video kira-kira semenjak Sekolah Menengah Atas sekitar 2015-an.”

Sama seperti gamer lain, stigma negatif di masyarakat juga jadi penghambat bagi Erika. Meski bukan berasal dari penilaian orang tua atau keluarga, tetap saja penilaian itu tidak menyenangkan baginya.

“Di samping itu juga kadang ada gamer laki-laki yang suka mengatakan hal-hal yang bernada melecehkan. Meski sekadar bercanda tetapi hal itu tidak enak didengar.”

Ini juga diakui Wakil Ketua Indonesia e-Sports Association (IeSPA) William Tjahyadi ketika mengembangkan e-sports di Indonesia. Namun, mereka masih yakin esports di Indonesia bakal lebih maju seiring dengan perkembangan teknologi.

Tag : internet, game, Asian Games 2018
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top