Mantan Manusia Tercepat Di Asia, Purnomo Yudhi: Habis Manis Sepah Dibuang

Purnomo, lengkapnya Purnomo Muhammad Yudhi, adalah pria asal Purwokerto, Jawa Tengah. Pria kelahiran 12 Juli 1962 itu, mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia.
Martin Sihombing | 15 Februari 2018 20:40 WIB
Purnomo Yudhi (dua dari kiri) dengan tim 4 x 100 m Indonesia - dok.pribadi / facebook

Bisnis.com, JAKARTA - Purnomo, lengkapnya Purnomo Muhammad Yudhi, adalah pria asal Purwokerto, Jawa Tengah. Pria kelahiran 12 Juli 1962 itu, mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia.

Selain menjadi manusia tercepat di Asia menyusul pencapaian prestasinya -- medali emas Kejuaraan Atletik Asia Jakarta 1985-- anak petani ini lolos ke  semifinal  nomor lari 100 meter Olimpiade Los Angeles 1984.

Dalam perempat final lomba lari pesta olahraga bangsa-bangsa di dunia itu, Purnomo --di seri keempat babak perempat final itu-- bercokol di posisi ketiga.  Posisi  pertama diraih Ray Stewart (Jamaika) dan Allan Wells (Inggris) pemegang  medali emas Olimpiade sebelumnya.

Ini bukan hanya pencapaian bagi seorang pelari Purnomo. Namun,  suami dari  RAy Endang Irmastiwi dan ayah dari empat  orang anak itu, menjadi sprinter Asia pertama yang tampil di semifinal Olimpiade.

Purnomo Yudhi bersama para mantan bintang olahraga Indonesia. Yustejo Tarik (tenis/kanan), Luciana Tarorreh (bola voli/kiri), Nurfitriyana (panahan/dua dari kiri) dan Gugi Bustaman (bolavoli) belakang./Dok.pribadi -  facebook

 

Menurut wartawan senior olahraga  almarhum Sumohadi Marsis catatan waktunya  lebih baik dibanding Allan Wells, juara Olimpiade untuk nomor itu empat tahun lalu di Moskow. Wells, dari Inggris, hanya mencatat 10,71 detik untuk menjadi juru kunci dalam semifinal yang diikuti 16 peserta dalam dua seri.

Sudah bisa mengalahkan Allan Wells, misalnya, apalagi cuma Sumeth Promna dari Thailand atau pelari-pelari Asia lainnya, merupakan modal amat berharga bagi pemuda desa yang lugu ini untuk menanjak lebih tinggi.

Mantan sprinter 100 meter andalan Indonesia, Purnomo Muhammad Yudhi, yang pada 2010 terpilih menjadi ketua Indonesia Olympian Assosiation (IOA), sosok pekerja keras. Itu diperlihatkan dan dibuktikan saat dia berproses menjadi yang terbaik di lintasan atletik, di Indonesia dan dunia.

Baginya, tekad keras  dalam proses menuju sukses, lebih penting dari  hal lainnya. Itu mengapa, dalam perjalanan karirnya, dia tidak mempersoalkan seperti apa dirinya.

Karena itu,  dalam proses menuju puncak karir yakni sebagai juara-- dia jalani meski bak meniti jalan terjal menuju puncak. Setiap hari, dia  berlatih mulai jam 05.00 pagi hingga 06.30. Lalu  ke sekolah naik angkot lalu  berlatih  kembali pada pukul 15.00, sepulang sekolah.

Hingga dia pun tak peduli meskipun  mengikuti kejuaraan atletik antar pelajar pertama kali saat kelas 3 SMA,  dia berlomba dengan hanya hanya mengenakan kaos kaki karena tak mampu membeli sepatu.

Namun, ketika disinggung dirinya adalah legenda atletik Indonesia dan mantan manusia tercepat di Asia, dia tersenyum dan bahkan agak tertawa, tetapi sosoknya yang rendah hati, tetap terlihat. " Itu hanya masa lalu," katanya, dalam bincang-bincang dengan penulis di media sosial miliknya. "[Namun]  ya lumayan jadi punya bahan cerita buat anak-anak."

Hanya saja, sikap pemerintah dalam menyikapi terhadap para atlet berprestasi, cenderung tidak menjadi stimulus untuk melahirkan para jawara baru di olahraga.

"Benar kata orang pintar: Habis manis sepah dibuang…eeee… Ternyata saya mengalami juga pepatah itu . Ha… ha… ha …. " Tentu, apa bentuk nyata dari habis manis sepah dibuang, hanya Purnomo dan pemerintah yang tahu.

Tag : atletik
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top