Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Peringkat Tenis Grand Slam Memang ‘Ajaib’

Turnamen Grand Slam memang ibarat uji nyali bagi para pemula dan kuburan bagi para pemain unggulan. Sang juara tampil dengan kisah epik yang membuat sebuah kemenangan tidak sekadar bermodal peringkat.
Inria Zulfikar
Inria Zulfikar - Bisnis.com 19 Februari 2021  |  20:47 WIB
Petenis Rusia Daniil Medvedev - ATPTour.com
Petenis Rusia Daniil Medvedev - ATPTour.com

Bisnis.com, JAKARTA – Turnamen tenis dunia, Australian Open (AO) mendekati babak akhir. Segera muncul sang juara putra dan putri. Siapa jagoan Anda?

Apakah Novak Djokovic, Daniil Medvedev, Naomi Osaka atau Jennifer Brady?

Dari serangkaian pertandingan yang digelar dan melibatkan sekian banyak pula pemain dengan beragam peringkat, seolah menghadirkan pesona tersendiri.

Para pemain top dunia, bahkan mereka yang tidak diperhitungkan pun, menyimpan kisah unik ketika berlaga di salah satu Grand Slam tersebut. Macam-macam penyebabnya.

Bisa karena mampu membuat kejutan dengan mengalahkan pemain unggulan meski akhirnya tumbang di babak selanjutnya. Atau sang juara tahun lalu berhasil mempertahankan mahkotanya.

Bisa pula sang juara kandas di putaran awal. Atau terjadi keajaiban ketika pemain peringkat gurem tiba-tiba menyodok hingga ke partai final dan lantas juara. Atau duel maut di partai final antara pemain peringkat pertama dan kedua dunia.

Rafael Nadal harus angkat koper, digilas Stefanos Tsitsipas. Lalu petenis putri peringkat satu dunia, Ashleigh Barty dari Australia juga tersingkir di perempat final, dikalahkan Karolina Muchova dari Ceko yang saat ini berada di peringkat 25.

Juga, sang veteran Serena Williams yang kini di posisi 16 dunia masih dapat menunjukkan kebolehannya dengan melumat Simona Halep, peringkat 2 dunia asal Rumania sebelum menyerah di tangan Osaka.

Lebih menarik lagi, dalam kondisi yang tidak prima, sang peringkat pertama putra, Novak Djokovic tetap melaju ke babak berikutnya, membungkam ambisi Taylor Fritz.

Pun, perjuangan berat Dominic Thiem (peringkat ketiga) yang berbuah manis saat mengalahkan Nick Kyrgios sebelum akhirnya takluk di tangan Grigor Dimitrov.

Itulah kompetisi keras di medan Grand Slam. Peringkat memang menunjukkan ‘sesuatu’ atau ‘kelas’, apalagi di rentang 1—10. Akan tetapi di lapangan segala sesuatunya bisa saja terjadi. Memang sederhana, hanya menang atau kalah. Tidak ada skor imbang.

Justru di situ pesona sekaligus keganasan Grand Slam. Dunia penuh bintang, yang kadang makin bersinar, redup atau bahkan perlahan pudar. Di sisi lain, mereka yang sebelumnya tidak diperhitungkan bisa saja membuat kejutan di setiap turnamen, sehingga akhirnya masuk ‘radar’ dunia.

Romantika ini tidak hanya terjadi di lapangan keras AO (Australia Terbuka), Melbourne Park tetapi juga di arena Grand Slam lainnya, yaitu Amerika Terbuka (lapangan keras), Prancis Terbuka (tanah liat), dan Wimbledon (rumput).

AO yang berlangsung pada 8—21 Februari merupakan Grand Slam pertama tahun ini, sekaligus sebagai gelaran Australia Terbuka ke-109 dan ke-53 di era terbuka.

Di Australia Terbuka kali ini, saya dan mungkin juga banyak penonton lainnya di layar kaca atau di tribune dapat menyaksikan kutipan pernyataan Rod Laver yang kerap ditayangkan.

Kata-kata sederhana tetapi maknanya menukik tajam langsung ke inti persoalan. Sangat pas sekali untuk para olahragawan.

The Time your game is most vulnerable is when you’re ahead. Never let up.”

Seperti kata Laver, “permainan Anda paling rentan adalah saat Anda unggul. Jangan menyerah.”

Rodney George Laver adalah legenda tenis Australia kelahiran 9 Agustus 1938 di Rockhampton, Queensland. Dia paham betul apa arti kemenangan, kekalahan dan terpenting, strategi untuk muncul sebagai kampiun, sehingga muncul seruan bernada motivasi tinggi macam itu.

Jangan kasih kendor! Begitu kira-kira. Bakat tenis Laver memang luar biasa. Di usia yunior sudah menjuarai Australia Terbuka dan Amerika Terbuka. Si Kidal ini kerap membuat lawan tidak berkutik, karena permainannya agresif dengan forehand dan back hand yang keras.

Begitu pula dengan ayunan servisnya. Menggelegar. Soal yang satu ini mungkin bisa disejajarkan dengan Alexander Zverev, petenis Jerman yang ‘gemar’ membombardir lawan lewat servis kilatnya.    

Alhasil, sulit melepaskan nama Rod Laver dari ajang AO. Impian meraih Grand Slam pun tercapai pada 1962. Tujuh tahun kemudian prestasi serupa terukir kembali. Dan pada 1964 hingga 1070, Laver bertengger kokoh di peringkat satu dunia.

Anda siap menjadi legenda?


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenis
Editor : Inria Zulfikar

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top