Jika Aksi di Papua Berlanjut, Begini Nasib PON 2020

Aksi protes yang dilakukan masyarakat Papua dan Papua Barat yang diwarnai pembakaran beberapa hari terakhir dikhawatirkan mengganggu keamanan saat Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua.
Rayful Mudassir
Rayful Mudassir - Bisnis.com 23 Agustus 2019  |  19:35 WIB
Jika Aksi di Papua Berlanjut, Begini Nasib PON 2020
Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa, Pelajar dan Masyarakat Papua (IMMAPA) Bali mengikuti aksi damai di kawasan Renon, Denpasar, Bali, Kamis (22/8/2019). Dalam aksi tersebut, mereka menolak dan mengutuk keras serta meminta aparat menangkap pelaku aksi rasisme terhadap mahasiswa Papua di sejumlah daerah. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Aksi protes yang dilakukan masyarakat Papua dan Papua Barat yang diwarnai pembakaran beberapa hari terakhir dikhawatirkan mengganggu keamanan saat Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua.

Tokoh Papua Baharudin Fara Wowan mengatakan penyelenggaraan pesta olahraga nasional akan terancam jika aksi protes masyarakat Papua dan Papua Barat terus berlanjut.

Seperti diketahu, aksi warga Papua terjadi menanggapi tindakan rasisme yang dialami oleh mahasiswa Papua di Surabaya.

"Tahun 2020 kita di Papua akan menghadapi PON. Kita harus berikan cerminan kehangatan berbangsa dan bernegara kepada seluruh atlet yang datang ke Papua untuk PON Nasional," kata Baharudin Fara Wowan usai silaturahmi Forkopimda di Polda Metro Jaya, Jumat (23/8/2019).

Menurut Baharudin PON 2020 akan menjadi salah satu media yang menyatukan para atlet di seluruh Indonesia dengan Papua. Dari kegiatan ini diharapkan memunculkan persatuan, nasionalisme antaranak bangsa.

Di sisi lain, pihaknya menuntut aparat keamanan segera memproses oknum aparat yang melakukan tindakan rasis di depan asrama mahasiswa Papua di Surabaya. Pasalnya aksi tersebut menjadi pemicu protes besar-besaran di Papua dan Papua Barat.

"Menuntut diusut tuntas adanya kasus ini [di Surabaya] dan kita melihat bahwa begitu cepat dan prosesnya berjalan dan kami berharap pelaku rasis yang oknum TNI ini sehingga dapat meredam segala bentuk kekerasan rasisme di bangsa ini," ujarnya.

Baharudin berharap rasisme tidak lagi terjadi untuk masyarakat Papua. Karena menurutnya jika seluruh masyarakat Tanah Air mengaku satu Bangsa, maka tidak ada lagi sekat-sekat yang menghalagi persatuan.

Namun jika masih ada perbedaan perlakuan di masyarakat, dia menyebut orang Papua dan Papua Barat akan merasa berbeda pula karena karakteristik rambut dan kulit yang berbeda dibandingkan dengan masyarakat Indonesia kebanyakan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
papua, PON 2020

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top