Formula E, Masa Depan Balap Mobil, dan Jakarta

Kabar gembira datang dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kota yang dikomandoinya itu disebut bakal menjadi tuan rumah balapan mobil bergengsi Formula E pada pertengahan 2020.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 15 Juli 2019  |  19:27 WIB
Formula E, Masa Depan Balap Mobil, dan Jakarta
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melihat mobil Formula E - Instagram

Bisnis.com, JAKARTA – Kabar gembira datang dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Kota yang dikomandoinya itu disebut bakal menjadi tuan rumah balapan mobil bergengsi Formula E pada pertengahan 2020.

Tak cuma bikin gembira, kabar ini pastinya bikin bangga para abang none dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Terbayang euforia dan mewanginya nama Jakarta saat menjemput tahun itu.  

Meski belum sepopuler Formula 1 yang telah berusia puluhan tahun dari akar seri Grand Prix, turnamen balapan Formula E digadang-gadang selevel Formula I dan siap meramaikan jalanan kota-kota di seluruh dunia.

Dengan sensasi serupa Formula 1, ajang balapan yang bernaung di bawah Federasi Otomotif Internasional (FIA) ini diyakini akan menjadi balap mobil masa depan karena tergolong ramah lingkungan.

Pada praktiknya, Formula E alias Formula Electric menggunakan mobil-mobil bertenaga listrik, sehingga bebas emisi dan diadakan di jalan raya yang diubah jadi sirkuit sementara.

“Semuanya harus dibangun dengan cara yang sangat terkoordinasi,” tutur Alejandro Agag, sosok yang bertanggung jawab atas Formula E, dikutip dari CBS News.

Pertama kali digagas pada 2012, kejuaraan perdana Formula E dimulai di Beijing pada September 2014 dan telah melalui lima musim hingga kini.

Formula E bertransformasi menjadi salah satu kejuaraan balap mobil yang memancing perhatian dunia, terutama dari segi desain dan teknologi.

 “Saya bahkan tidak tahu mobil-mobil itu akan berfungsi. Semua orang berpikir kami akan gagal. Saya rasa saya hanya berharap kami mempunyai kesempatan saat itu [lima tahun lalu],” ungkap Agag di New York.

Balapan Formula E berdurasi pendek, hanya sekitar 45 menit, dan berlangsung di trek yang sempit. Setiap pebalap yang berlaga dapat memacu kecepatan mobilnya hingga mencapai 175 mph.

Ini jauh berbeda dengan Formula 1 yang mobil-mobilnya dikendarai di lintasan lebih lebar dan panjang. Tapi bagi Jean Eric Vergne, yang mengendarai Formula 1 sebelum menjadi pebalap teratas Formula E, balapan ini tidak sesederhana kedengarannya.

“Terus terang, saya lebih ciut melaju di lap kualifikasi Formula E ketimbang Formula 1. Lintasannya sangat sempit dan mobilnya sangat berat. Sangat sulit untuk dipatahkan,” jelas Vergne.

“Penanganannya tidak sebaik F1. Jadi, mengemudi terasa jauh lebih sulit. Banyak kesalahan terjadi,” lanjut juara Formula E musim terakhir yang digelar di New York, Minggu (14/7/2019) tersebut.

Ruang mesin pada mobil-mobil Formula E diisi oleh baterai. Pada musim-musim sebelumnya, setiap pengemudi harus berganti mobil karena baterai mobil mereka tidak dapat bertahan sepanjang lomba. Tapi tahun ini daya baterai telah meningkat secara dramatis.

Logistik memindahkan baterai-baterai itu dari kota ke kota terbilang rumit. Di Brooklyn, hampir 700 orang bekerja tanpa henti untuk membangun trek turnamen pekan lalu di New York. Secara keseluruhan, turnamen ini ditaksir menelan biaya antara US$10 juta-15 juta.

Agag sendiri tak keberatan mengeluarkan uang saat ini dan berinvestasi di masa depan. Tak hanya menjadi seri balap mobil listrik teratas, Formula E juga berambisi untuk menjadi seri balap mobil secara keseluruhan yang paling mendunia.

“Saya mencintai Formula 1. Saya pikir turnamen ini luar biasa. Tapi seiring dengan bergesernya industri ini ke listrik, posisi Formula 1 semakin sulit,” sambungnya.

Pernyataan Agag diamini oleh Andre Lotterer, pebalap kelahiran Jerman yang berlaga dalam tim Techeetah di Formula E Championship.

“Anda harus melihat Formula E seolah kami adalah awal dari babak baru dalam industri otomotif, dalam balap mobil,” tutur Lotterer, rekan setim Vergne.

Travis Okulski, pemimpin redaksi Road & Track, mengakui bahwa mobil balap listrik bukan lagi barang baru bagi pabrikan. Namun ia berpendapat perjalanan mobil listrik masihlah panjang.

“Formula 1 sudah memiliki riwayat sejarah hampir tujuh puluh tahun untuk berkembang menjadi puncak motorsport. Formula E datang dengan teknologi baru. Butuh waktu untuk menjadi puncak motorsport,” ujar Okulski.

Bagaimanapun masa depannya, tak bisa dipungkiri jika Formula E kini telah berkembang menjadi turnamen balap mobil kelas dunia yang bakal mengangkat kota tempatnya diadakan.

Anies berharap Jakarta bakal menjadi sorotan dunia dan menggerakkan perekonomian hingga senilai lebih dari 78 juta euro atau Rp1,2 triliun saat menjadi tuan rumah Formula E pada 2020.

“Pada dunia kita kirimkan pesan: Jakarta bukan cuma pemain domestik, Jakarta siap menyongsong, siap sejajar dan makin bersinar di antara megapolitan dunia,” tulis Anies dalam akun Instagramnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
formula 1, anies baswedan, Formula E Championship

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top