Prestasi Atlet Para Games, Psikolog, Motivator, dan Dokter Olahraga

Prestasi para atlet para games Indonesia tentu tak hanya berdasarkan kemampuan otot belaka. Motivasi yang tinggi menjadi modal lain yang tak bisa dinisbikan. Terkait motivasi, persoalan nonteknis menjadi salah satu pendukungnya.
Saeno | 11 Oktober 2018 10:45 WIB
Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi (kedua kiri), Atlet para atletik nomor lari 100 meter putri T13 Putri Aulia (kedua kanan), Ni Made Arianti Putri (kiri) dan Endang Sari Sitorus merayakan kemenangannya pada ajang Asian Para Games 2018 di Jakarta, Rabu (10/10/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA  - Prestasi yang diraih para atlet para games Indonesia sungguh membanggakan. Selain melewati target yang dicanangkan pemerintah, mereka pun memberi inspirasi bagi masyarakat.

Tak hanya warga penyandang disabilitas, mereka yang selama ini memiliki ability pun terkesiap dengan kemauan keras dan prestasi mereka.

Prestasi para atlet para games Indonesia tentu tak hanya berdasarkan kemampuan otot belaka. Motivasi yang tinggi menjadi modal lain yang tak bisa dinisbikan. Terkait motivasi, persoalan nonteknis menjadi salah satu pendukungnya.

Tak heran jika Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, mengatakan pencapaian atlet Indonesia di Asian Para Games 2018 saat ini tidak lepas dari dukungan nonteknis. Salah satu contohnya adalah tim psikolog yang selalu siaga mendampingi para atlet penyandang disabilitas.

Pada hari kelima, Rabu (10/10/2018) tim Indonesia meraih 11 medali emas, 13 perak, dan 15 perunggu. Secara keseluruhan, mereka sudah mengumpulkan 23 emas, 29 perak, dan 34 perunggu. Prestasi itu membuat Indonesia untuk sementara berada di peringkat keenam pengumpulan medali.

"Tim psikolog itu disiapkan Chef de Mission setiap saat. 24 jam kecuali tidur. Tidur pun didampingi sampai merem betul," ujar Imam saat ditemui wartawan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, saat hendak menyaksikan kompetisi cabang olahraga atletik, Rabu (10/10/2018), seperti ditulis Tempo.co.

Imam mengatakan tak bisa dipungkiri bahwa pendekatan pada atlet penyandang disabilitas memerlukan cara khusus. Pendekatan ini, Imam melanjutkan, meliputi pemberian stimultan, dan cara komunikasi yang dapat membuat para atlet rileks.

Adapun porsi tim psikolog ini berbeda di setiap cabang olahraga. Menyesuaikan dengan besarnya jumlah atlet di cabor itu.

Ide menghadirkan psikolog ini menurut Imam merupakan inisiatif Chef de Mission, Arminsyah, dan ia dukung penuh. Menpora pun mengaku senang melihat hasil usaha bersama ini. Mengacu pada pengalamannya, Imam mengatakan banyak kasus atlet yang gagal dalam pertandingan karena hal-hal di luar hal teknis gagal dideteksi sejak awal.

 Imam mengatakan akan terus memperkuat tim psikolog ini untuk menghadapi gelaran multicabang serupa. "Nah menurut saya ini menjadi satu pengalaman, sehingga ke depan ada multievent, Asian Games, dan Olimpiade, maka itu (hal non-teknis) akan diperkuat," ujar Imam.

Menghadirkan psikolog untuk mendampingi atlet bukanlah hal yang baru. Di Indonesia dulu dikenal nama Jo Rumeser sebagai psikolog pendamping timnas sepakbola. Saat PSSI Garuda  menjuarai Merdeka Games di Bangkok, 1984, Jo Rumeser memberikan peran yang tidak bisa diabaikan.

Motivator

Selain psikolog, Indonesia juga menjadikan motivator sebagai pendorong semangat atlet. Dalam hal ini, nama Andrie Wongso menempati posisi fenomenal.

Andrie Wongso adalah nama dibalik kebangkitan atlet bulutangkis Hendrawan yang sempat mengalami masa "mati angin".

Setelah mencetak prestasi bagus, Hendrawan terus melorot dan nyaris membuatnya frustrasi.

Kehadiran Andrie Wongso, "tukang pembuat kata-kata indah" yang berlatar pendidikan alakadarnya, sukses membangkitkan Hendrawan yang terpuruk bertahun-tahun.

Andrie Wongso juga menyumbangkan peran penting atas keberhasilan  tim bulutangkis Indonesia menjuarai Thomas Cup sampai tiga kali. Indonesia tercatat berhasil mendekap piala Thomas pada 1998, 2000, dan 2002.

Sains dan Kedokteran Olahraga

Tentu di luar peran psikolog dan motivator, peran sains juga tidak terelakkan dalam olahraga modern. Begitu pula dengan peran dokter tim dalam sebuah konstestasi olah raga. Banyak dokter yang dikenal terjun di bidang olah raga, Nama paling populer tentu saja adalah dr. Sadoso Sumosardjuno SpKO, yang pernah mengasuh rubrik olahraga di sebuah tabloid.

Di cabang olahraga sepakbola, salah satu dokter yang pernah terlibat di PSSI adalah dokter Phaidon L. Toruan. Dokter Phaidon pernah diserahi tugas PSSI sebagai nutrition manager. Itu berlangsung saat PSSI menjaring 40 pemain berusia 13-14 tahun dari seluruh penjuru tanah air untuk dididik menjadi pemain berstandar internasional di Indonesia Football Academy (IFA).

Dokter Phaidon juga pernah bergabung dengan PBTI (Pengurus Besar Taekwondo Indonesia) pada 2001. Setahun kemudian ia bergabung bergabung di PB PABBSI hingga 2005 di bidang R&D. Ia turut membantu PB PABBSI mengantar tim Indonesia memperoleh medali Asian Games Busan Korea (2 perak dan 2 perunggu), Olympic Games Athena tahun 2005 (perak) dan mempersiapkan atlet junior sejak tahun 2003 yang akhirnya memperoleh 2 medali perunggu di Olympic Games Beijing 2008. 

Tentu banyak nama lain yang belum terungkap, satu hal yang pasti, Indonesia tak kekurangan SDM untuk meraih prestasi olahraga. Bahan "baku" berupa atlet berbakat banyak, para cerdik pandai yang bisa dikerahkan untuk mendukung prestasi olahraga juga tidak sedikit.

Prestasi para atlet para games Indonesia dan keberhasilan pendekatan psikologis kepada mereka menjadi pintu pembuka soal pihak-pihak di "back office" olahraga yang turut mengharumkan Indonesia. 

Sumber : TEMPO.CO

Tag : dokter, psikolog, Asian Para Games
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top