ASIAN GAMES 2018: Strategi Jaring 2 Juta Penonton

Devisa yang diharapkan dari penyelenggaraan Asian Games 2018 tentunya tidak hanya berasal dari akomodasi, suvenir, atau kuliner. Indikasi sukses tidaknya ajang olahraga terbesar Asia ini juga bisa dilihat dari seberapa besar animo masyarakat untuk menonton langsung.
Dinda Wulandari dan Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh | 10 Agustus 2018 18:20 WIB
Peserta mengikuti Parade Menuju 100 Hari Asian Games di Jakarta, Minggu (13/5). Parade tersebut diikuti sekitar 4000 peserta dari berbagai instansi. - Bisnis/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Devisa yang diharapkan dari penyelenggaraan Asian Games 2018 tentunya tidak hanya berasal dari akomodasi, suvenir, atau kuliner.

Indikasi sukses tidaknya ajang olahraga terbesar Asia ini juga bisa dilihat dari seberapa besar animo masyarakat untuk menonton langsung.

Direktur Ticketing Indonesia Asian Games 2018 (Inasgoc) Sarman Simanjorang mengatakan target jumlah tiket yang terjual selama kompetisi olahraga ini berlangsung adalah 2 juta tiket. Target tersebut di atas realisasi penjualan tiket Asian Games 2014 yang digelar di Incheon, Korea Selatan (Korsel) yang jumlahnya 1,3 juta tiket.

Harga tiket bervariasi. Untuk acara pembukaan di Jakarta, harganya dipatok sebesar Rp5 juta untuk kategori A, Rp1,5 juta untuk kategori B, dan Rp750.000 untuk kategori C.

Untuk acara penutupan, harganya ditetapkan sebesar Rp2 juta untuk kategori A, Rp1 juta untuk kategori B, dan Rp450.000 untuk kategori C.

Jakarta International Velodrome./Bisnis

Untuk acara pertandingan masing-masing cabang olahraga (cabor), harga yang dipatok pun beragam. Contohnya, untuk pertandingan sepak bola pria harganya mulai dari Rp75.000 sampai Rp1,5 juta.

Namun, sebagian besar cabor menetapkan harga tiket mulai dari Rp100.000. Tersedia pula tiket terusan dengan harga antara Rp300.000-Rp3,3 juta untuk cabor yang berbeda-beda.

Berbagai cara pun dilakukan untuk memenuhi target tersebut, termasuk promosi besar-besaran.

Wakil Sekretaris Jenderal Inasgoc Dendi T. Danianto mengungkapkan pihaknya menggandeng pihak sponsor untuk mempromosikan Asian Games secara offline seperti di tempat hiburan, mal, dan fasilitas umum lainnya.

Inasgoc pun melakukan promosi melalui media sosial untuk menjaring lebih banyak calon penonton, termasuk dari luar negeri. 

Panitia juga menggandeng sejumlah bank untuk memberikan promo kepada masyarakat, di antaranya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Promo yang diberikan misalnya potongan harga hingga 70% serta cicilan dengan bunga 0% selama jangka waktu tertentu.

Khusus untuk acara pembukaan dan penutupan, panitia meyakini keduanya akan menjadi tak terlupakan sehingga diharapkan dapat turut menarik minat calon penonton.

Untuk pembukaan, disiapkan panggung sepanjang 135 meter, lebar 30 meter, dan tinggi 26 meter. Dengan ukuran ini, panggung tersebut diklaim menjadi yang terbesar dan tertinggi dalam sejarah upacara pembukaan acara sejenis.

Tak tanggung-tanggung, belasan artis nasional bakal meramaikan acara tersebut, yang akan digelar pada 18 Agustus 2018. Plus, ribuan seniman termasuk penari, musisi, dan seniman bakal turut berkontribusi.

Sementara itu, berdasarkan laman resmi Asian Games 2018, setidaknya ada 79 mitra yang digandeng Inasgoc, baik perusahaan dalam negeri maupun luar negeri.  Di antaranya bergerak di sektor perbankan, konsumer, elektronik, dan transportasi.

Inasgoc menyampaikan bantuan dari sponsor tidak hanya berupa dana tunai, tapi juga non tunai. Di antaranya dalam bentuk penyediaan jaringan WiFi, tiket bis Transjakarta, dan asuransi. 

Atlet voli pantai Indonesia berlatih di Jakabaring Sport City, Palembang./Antara

Harga Tiket Kemahalan?

Namun, sebagian masyarakat menilai harga tiket yang dipatok Inasgoc masih terlalu tinggi.

Dicky, seorang karyawan swasta yang sangat mencintai pertandingan sepak bola, mengatakan kepada Bisnis bahwa harga tiket untuk menonton pertandingan final cabor tersebut terlalu mahal.

“Mahal, kalau bisa dikurangi lah. Itu yang kategori termurah Rp200.000. Kan final paling enak nonton di kategori B atau A yang agak dekat sama lapangan, tapi itu juga harganya lumayan sekali, mending saya nonton di rumah,” tuturnya, akhir pekan lalu.

Tiket untuk kategori yang disebut Dicky masing-masing dijual dengan harga Rp400.000 dan Rp800.000.

Hal senada disampaikan Gilang Ramayani, seorang ibu rumah tangga dan pelatih renang. Awalnya, dia ingin mengajak anaknya menonton pertandingan renang di Asian Games 2018.

Penyelenggaraan ajang olahraga berskala besar seperti ini di Indonesia merupakan kesempatan yang cukup langka, sehingga dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan anaknya dengan dunia olahraga. Tetapi, harga tiket yang lumayan besar untuk cabor tersebut membuatnya berpikir ulang.

Stadion Gelora Bung Karno./Antara

“Harga tiket Rp300.000 untuk satu tiket lumayan banget. Saya juga heran dengan harga sebesar itu apakah akan ada banyak penonton yang datang. Renang kan berbeda dengan sepak bola atau bulu tangkis yang lebih dinamis,” ujarnya.

Harga tiket babak penyisihan cabor renang dipatok Rp150.000. Untuk babak final, yang digelar di hari yang sama dengan babak penyisihan, harganya Rp300.000.

Artinya, jika ingin menonton babak penyisihan dan final sekaligus,  penonton harus mengeluarkan biaya Rp450.000 untuk satu tiket. Adapun cabor renang dipertandingkan pada 19-24 Agustus 2018.

Ekonom dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira juga memandang harga tiket yang dipatok kurang bersahabat.

“Begini, kan ada opsi karena tiketnya mahal untuk cabang-cabang olahraga tertentu jika sepi peminat maka akan dikerahkan siswa sekolah untuk diliburkan [dibagikan tiket gratis untuk menonton pertandingan], itu kan tidak ada kesinambungannya,” jelasnya.

Jika hal tersebut yang terjadi, sebaiknya harga tiket disubsidi dan dijual murah agar banyak masyarakat yang tertarik untuk menonton pertandingan. Lalu, harga penjualan barang dari merchandise dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang bekerja sama dengan Inasgoc dimainkan.

Multiplier-nya kemudian dimainkan di situ. Yang ditakutkan kalau harga tiketnya sudah mahal duluan, nanti penjualan dari UMKM-nya menjadi tidak terlalu ramai,” lanjut Bhima.

Jakabaring Sport City, Palembang./Antara

Menurutnya, masalah harga penjualan tiket Asian Games 2018 perlu dibenahi dengan cara dijual murah terutama di cabang-cabang olahraga tertentu yang memang sepi peminat.

“Kalau kosong [penontonnya] kan ada potencial loss. Jadi, lebih baik pemerintah tidak mengambil banyak untuk dari tiket tapi multiplier effect-nya dari konsumsi masyarakat yang datang, kemudian euforianya yang ditingkatkan,” tambah Bhima.

Penjualan Tiket Sudah 50%

Tetapi, Ketua Inasgoc Erick Thohir justru menilai harga tiket upacara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 di Jakarta termasuk murah, dibandingkan dengan harga tiket di kompetisi olahraga internasional lain.

"Tiket Asian Games 2018 harganya sekitar sepertiga dari harga internasional. Harga tiket itu sudah berdasarkan penelitian oleh lembaga riset profesional, Kantar TNS, di mana harga tiket pertandingan itu dilihat dari daya beli, semuanya diteliti," ungkapnya, baru-baru ini.

Erick menjelaskan berdasarkan data penelitian Kantar TNS, harga tiket kompetisi olahraga tingkat internasional di sejumlah negara sekitar Rp200.000-Rp1,6 juta.

Namun, Pemerintah Indonesia menerapkan harga tiket pertandingan Asian Games 2018 paling murah Rp50.000 dan paling mahal Rp600.000.

Begitu juga untuk harga tiket upacara pembukaan dan penutupan. Dia membandingkan harga tersebut dengan penyelenggaraan Asian Games 2014 yang harga tiketnya paling murah Rp1,8 juta dan paling mahal lebih dari Rp8 juta.

Inasgoc juga mengatakan sudah banyak tiket pertandingan yang terjual.

“Sampai saat ini, sudah hampir 50% lebih. Pekan lalu sudah 17 negara yang booking tiket, biasanya mendekati [penyelenggaraan] akan semakin banyak,” terang Sarman.

Presiden Joko Widodo bermain boling di Jakabaring Sport City, Palembang./Antara

Dia memerinci pembelian tiket yang paling banyak diminati antara lain untuk momen pembukaan dan penutupan. Selain itu, cabor yang penjualan tiketnya diklaim laris adalah sejumlah cabor favorit seperti sepak bola, bulu tangkis, basket, voli, dan renang.

Di Palembang, Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang berupaya mengajukan agar panitia memberikan tiket gratis bagi para pelajar untuk menonton pesta olahraga tersebut. Pj Walikota Palembang Akhmad Najib mengatakan pihaknya memiliki kekhawatiran sejumlah pertandingan bakal sepi penonton.

“Kami sudah minta ke Inasgoc untuk menggratiskan tiket ke pelajar. Kalau tidak, ya tidak ada yang nonton,” ujarnya, Rabu (8/8).

Najib melanjutkan cabor skateboard dan rollerskate memang memiliki komunitas sendiri, tapi tidak terlalu besar seperti voli atau sepak bola.

“Ini juga mengedukasi masyarakat bagaimana Asian Games 2018 itu bisa ditonton,” tegasnya.

Pemkot Palembang mengaku sudah membebaskan pajak terhadap tiket masuk venue di Jakabaring Sport City (JSC) Palembang.

Pemerintah setempat menyatakan terus berkoordinasi dengan Inasgoc terkait tiket, termasuk berapa pembiayaannya, distribusi, bagaimana dengan venue yang kurang penonton, serta apakah akan ada tiket yang digratiskan.

Animo masyarakat Palembang untuk menonton langsung pertandingan Asian Games 2018 memang tak kalah dari warga Jakarta. Khaidir, warga Kelurahan Srijaya, Palembang, mengungkapkan dirinya tertarik menonton boling karena sering mendengar bahwa venue boling di JSC dilengkapi dengan peralatan mutakhir.

“Penasaran ingin melihat venue-nya. Kebetulan saya juga hobi boling,” ujarnya.

Venue dayung untuk Asian Games 2018 di Palembang./Antara

Adapun Budi, warga Palembang lainnya, mengaku tertarik menonton cabor dayung yang juga bakal digelar di JSC.

“Sekalian ingin bawa anak-anak biar jadi hiburan kalau memang lombanya di akhir pekan,” ucapnya.

Seperti disebutkan sebelumnya, keberhasilan penyelenggaraan Asian Games 2018 tidak hanya dilihat dari apakah kompetisi ini berlangsung tanpa cela, termasuk skandal di pertandingan cabor dan kenyamanan para kontingen peserta, serta dari sisi keamanan.

Jumlah penonton yang datang langsung, terutama dari warga tuan rumah, bisa menunjukkan seberapa besar perhatian dan keinginan masyarakat untuk turut aktif menyukseskan acara besar ini.

Tag : Asian Games 2018
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top