Tristan Alif Naufal, Tapak Baru Bocah Ajaib

Ada suasana yang berbeda di Lantai 10 Kantor Kementerian Pemuda dan Plahraga (Kemenpora) di Jakarta pada Senin (16/2/2015) ketika satu keluarga terdiri atas ayah, ibu dan seorang anak datang.
Fatkhul Maskur | 17 Februari 2015 11:20 WIB
Tristan Alif Naufal dan Menpora, diapit oleh orang tua Traistan, Ivan Trianto dan Irma Lansano. - foto/foto twitters

Bisnis.com, JAKARTA - Ada suasana yang berbeda di Lantai 10 Kantor Kementerian Pemuda dan Plahraga (Kemenpora) di Jakarta pada Senin (16/2/2015) ketika satu keluarga terdiri atas ayah, ibu dan seorang anak datang.

Mereka kemudian diterima Menpora Imam Nahrawi di ruang kerjanya. Mereka adalah Tristan Alif Naufal dan orang tuanya, Ivan Trianto dan Irma Lansano.

Kedatangan keluarga ini dalam rangka pamit atas keinginan kuat untuk tinggal di Eropa. Alif sudah beberapa tahun menjadi perhatian publik Indonesia dan mulai dilirik ahli-ahli sepakbola Eropa karena kelihaian mengolah kulit bundar itu.

Bulkan hanya media nasional, media olahraga internasional mulai menyoroti bakatnya. Tak sedikit pula yang menyebutnya sebagai "bocah ajaib".

Kini Tristan Alif Naufal semakin menyita perhatian pemandu bakat sepak bola Eropa. Bocah yang kini menginjak usia sembilan tahun itu segera resmi bergabung di akademi sepak bola terbaik di dunia, Ajax Amsterdam, Belanda.

Bakat Alif Naufal ini juga mendapat perhatian serius dari Menpora Imam Nahrawi. Pada Senin itu, Menpora didampingi Sesmenpora Alfitra Salamm dan Staf Khusus Muhammad Khusen Yusuf menerima Tristan Alif Naufal dan orang tuanya, Ivan Trianto dan Irma Lansano.

Selain sesi foto bersama, pertemuan juga diselingi demo kelihaian Alif mengolah bola di ruang itu dengan kakinya yang masih mungil. Kalau saja bukan orang yang berbakat dan piawai mengolah bola, ruang kerja menteri sudah berantakan karena tersambar bola.

Tapi itulah kepiawaian dan keahlian, tetap bisa ditunjukkan meski di ruang yang tidak terlalu luas. Bagaimana mengocek bola, kemudian mengopernya ke atas lalu disambut sundulan.

Dia tunjukkan kelincahan dan kepiawaian itu tanpa keraguan. Semangat kini terpancar di wajah dan keluarga itu.

Kendala Kepada Menpora, orang tua Alif, Ivan Trianto menyampaikan terima kasih karena sudah diundang oleh Menpora serta menceritakan keinginan besar Alif bergabung dengan akademi sepak bola Ajax, yang bergengsi di Eropa.

Mimpi besar itu segera terwujud. Namun ada persyaratan yang saat ini masih menjadi kendala bagi orang tua Alif, yakni mengenai izin tinggal dan jaminan pekerjaan orang tua Alif ketika di Belanda. "Kami perlu izin tinggal di Belanda untuk sekeluarga agar Alif juga bisa bergabung di akademi Ajax atau Feyenoord. Sebab, sekarang yang dibutuhkan hanya itu (izin tinggal)," kata Ivan Trianto.

Dia berharap pemerintah mau membantu prosesnya, termasuk Kedubes RI di Belanda. Alif tak perlu "trial" atau tes untuk masuk akademi Ajax. Ini kesempatan besar dan tak mudah mendapatkannya.

"Para pelatih dan petinggi Ajax sangat berharap Alif sudah kembali ke Belanda Maret 2015," kata Ivan Trianto.

Menpora menanggapi serius masalah tersebut. Menpora berusaha keras agar kendala itu bisa segera diatasi demi terwujudnya cita-cita Tristan Alif Naufal menjadi pemain dunia.

Karena itu, Menpora secepatnya berkoordinasi dengan instansi terkait khususnya Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) untuk membantu proses izin tinggal dan pekerjaan orang tua Alif di Belanda. "Saya apresiasi dengan prestasi yang dilakukan Alif sekarang, sebagai anak bangsa dia sangat membanggakan Indonesia," kata Menpora.

Karena itu, pemerintah akan membantu semaksimal mungkin untuk mewujudkan cita-cita Alif menjadi pemain kelas dunia yang bisa mengharumkan nama bangsa.

Alif sempat berada di Belanda. Ia sudah dua kali mendapat undangan berlatih bersama klub raksasa Eredivisie, Ajax Amsterdam. Kesempatan tersebut tak disia-siakan oleh Alif, yang langsung mencuri perhatian para pelatih dan petinggi Ajax. Yang mengejutkan Alif dinobatkan sebagai "Most Valuable Player" di Ajax International Camp 2014. Ajang tersebut diikuti oleh 250 anak dari 20 negara, yang berusia 8-16 tahun.

Alif juga menjadi "Best Player" pada 1V1 category yang kemudian membuat namanya semakin dikenal di Eropa khususnya Belanda.

Alif, yang dijuluki "Leonel Messi" Indonesia itu menjadi pemain Asia pertama yang meraih penghargaan tersebut. Ajax International Camp menjadi ajang bergengsi di Belanda dan Ajax sudah dikenal memiliki akademi bernama De Toekomst, yang merupakan akademi sepak bola terbaik di dunia versi FIFA.

Sepak terjang Alif, sama ketika Messi (bintang dunia asal Argentina) mengawali karir di sepak bola. Bakat dan gaya "dribble"-nya sama. Messi juga mengawali sepak bola pada usia dini, yakni lima tahun di klub Grandoli, klub sepak bola lokal yang dilatih ayahnya, Jorge.

Pada usia 8 tahun, Messi sudah bergabung dengan Newell's Old Boys yang berbasis di kampung halamannya, Rosario. Tiga tahun kemudian, dia dilirik oleh bos Barcelona untuk pindah ke Spanyol, masuk ke akademi sepak bola mereka. Itulah sebabnya ikatan emosi Messi pada Barcelona cukup kuat hingga ia menjadi bintang dunia dengan mengharumkan nama negara asalnya, Argentina.

Berbakat Siapakah Tristan Alif Naufal? Info Timnas Indonesia Garuda menyebutkan bahwa Alif adalah bocah berusia sembilan tahun yang melalui dua buah videonya di Youtube mengundang decak kagum banyak orang. Dia sekolah di SD Kartika Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Video berjudul Tristan Alif Naufal (Indonesia Football Star on The Making) diunggah 3 Maret 2012. Dalam hitungan seminggu video tersebut sudah ditonton 18 ribu orang. Video yang menampilkan kemahiran Alif dalam mengolah bola sontak membuat decak kagum masyarakat.

Banyak yang menilai aksi dan kehebatannya dalam bermain bola, khususnya "dribbel" dan "skill" layaknya Lionel Messi, Christiano Ronaldo dan Zinedine Zidane.

Hal itu mengundang berbagai pujian yang tidak hanya dari penonton di Indonesia tapi juga luar negeri di antaranya dari fans-fans Liverpool di situs resmi mereka.

Tristan Alif Naufal pernah menjadi siswa di akademi sepak bola Liverpool FC Internasional Football Academy (LFCIFA) Jakarta dan juga SSI Arsenal. Ia memiliki bakat alami dan saat ini terus ditempa agar bakatnya itu semakin berkembang.

Menurut pelatihnya di LFCIFA, Tristan memiliki bakat alami dan juga memiliki kepribadian yang baik. "Tristan adalah anak yang luar biasa. Sikapnya juga demikian. Dia selalu mendengarkan arahan pelatih dan selalu mencoba untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya," kata Paul Barratt, pelatih senior akademi LFCIFA.

"Namun, kita harus ingat, dia harus belajar bagaimana caranya bermain dalam sebuah tim," ujar Paul Barratt.

Menurut ibunya, Irma S Lansano, Alif mengidolakan Andik Vermansyah, pemain andalan Persebaya 1927 dan Timnas Indonesia. "Andik 'kan kecil sama kaya' aku," kata Irma Lansano menirukan anaknya.

Namun Alif terbiasa bermain dengan pemain bertubuh lebih besar. Pada waktu umurnya tujuh tahun, dia bermain untuk tim berumur 10 tahun di SSI Arsenal. Pelatihnya, Fanny Usup, memindahkan Alif ke level yang lebih tinggi karena kemampuanya melebihi teman seumurannya.

Selain menyukai Andik, Alif yang lahir Jakarta, 12 Desember 2004, juga mengagumi Luiz Suarez, penyerang klub Liga Inggris, Liverpool. Alif memakai seragam nomor tujuh supaya sama dengan Suarez. "Kalau Suarez main pasti dia nonton bareng," kata Irma.

Suatu saat nanti mungkin pecandu sepak bola Indonesia akan melihat Alif menunjukkan kepiawaianya dalam acara "nonton bareng" yang mengasyikan. Sudah sangat lama publik merindukan "anak ajaib" sekelas Lionel Messi, Christiano Ronaldo, Zinedine Zidane atau Luiz Suarez lahir di negeri ini.

Sumber : Antara

Tag : sepak bola
Editor : Fatkhul Maskur
Top