Ini Geliat Sekolah Sepakbola di Jakarta

Populernya olahraga sepakbola di Indonesia, membuat kegiatan menyekolahkan anak ke sekolah sepakbola (SSB) menjadi jamak di tengah masyarakat. Maka tak heran jumlah SSB di berbagai daerah terus bertambah.
Yustinus Andri DP | 02 Februari 2015 21:30 WIB
Ilustrasi - manvelsoccer.org

Bisnis.com, JAKARTA--Populernya olahraga sepakbola di Indonesia, membuat kegiatan menyekolahkan anak ke sekolah sepakbola (SSB) menjadi jamak di tengah masyarakat. Maka tak heran jumlah SSB di berbagai daerah terus bertambah.

Bahkan saat ini, kegiatan memasukkan anak ke SSB bukan lagi menjadi ajang untuk sekedar menuruti keinginan dan minat anak di dunia sepakbola. Melainkan telah menjadi gaya hidup yang menunjang prestise dari orang tua, terutama di Jakarta.

Maka tak heran, ketika SSB franchise dari klub-klub internasional masuk ke Indonesia beberapa waktu lalu, seperti SSI Arsenal dan Liverpool Internasional Football Academy. Banyak orang tua kalangan atas, tak segan-segan memasukkan anaknya ke SSB franchise tersebut. Meskipun dengan tarif yang cukup mahal.

Seperti contoh Liverpool Internasional Football Academy, sebelum menyatakan diri tutup, mematok tarif sebesar Rp3,750 juta untuk delapan kali latihan dalam satu bulan.

Faktor gengsi dan nama besar dari sebuah SSB franchise yang terafiliasi dengan klub-klub internasional. Dikatakan oleh Yahyo Yusworo, pelatih kepala sekaligus owner dari SSB Tik-Tak Football First, sebagai faktor yang mendominasi kenapa para orangtua mau mengeluarkan uang cukup besar untuk memasukkan anaknya ke SSB tersebut.

Tik-Tak Footbal First merupakan SSB “penerus” Liverpool Internasional Football Academy, setelah SSB franchise dari klub terkenal asal Inggris tersebut menyatakan tutup pada awal 2013 lalu. Sedangkan Yahyo Yusworo sendiri, sebelum menjadi pelatih kepala dan owner Tik-Tak Football First, merupakan Head of Operation and Coach dari Liverpool Internasional Football Academy.

“Brand dari klub-klub waralaba sangat berpengaruh sekali menarik minat orang tua. Contohnya ketika Liverpool Internasional Football Academy tutup dan saya ambil alih jadi Tik Tak Football First jumlah murid menurun,” ujar Yahyo saat diwawancara Bisnis.

Padahal menurut Yahyo, dari segi service ke orangtua maupun anak-anak, serta pola latihan dan kurikulum yang dipakai oleh Tika-Tak Football First tak jauh berbeda dari Liverpool Internasional Football Academy.

“Dulu saat pakai nama Liverpool Internasional Football Academy, jumlah murid mencapai 600 anak. Sekarang jumlahnya hanya mencapai 80 anak,” kata Yahyo.

Namun Yahyo tak menampik walaupun mengalami penurunan jumlah murid, pola menyekolahkan anak ke SSB masih menjadi salah satu gaya hidup dari masyarakat.

Salah satunya, para orangtua cenderung memilihkan SSB bagi anaknya yang memiliki service dan pelayanan yang baik, sehingga bisa membuat para orang tua nyaman. Bukan hanya prestasi dan kualitas yang dimiliki oleh SSB tersebut.

“Kita punya, layanan info SMS blast, share BBM dan aktif di media sosial seperti facebook dan twitter. Maka tak heran para orangtua tak segan mendorong anaknya untuk masuk ke SSB kita,” pungkas Yahyo.

Tag : sekolah sepakbola
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top