AFF 2012: Indonesia telah dimenangkan

JAKARTA—Begitu peluit panjang wasit Kovalenko Valentin terdengar dan Indonesia kalah 0-2 dari Malaysia, banyak orang bersukacita. Yah…hasil terbaik telah diperoleh. Ada yang marah atau kesal dengan hasil itu, tentu tidak sedikit. Namun,
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 02 Desember 2012  |  19:49 WIB

JAKARTA—Begitu peluit panjang wasit Kovalenko Valentin terdengar dan Indonesia kalah 0-2 dari Malaysia, banyak orang bersukacita. Yah…hasil terbaik telah diperoleh. Ada yang marah atau kesal dengan hasil itu, tentu tidak sedikit. Namun, mereka kemudian tersadar, menyatakan Indonesia telah menang di Piala AFF 2012.

Tim ini berangkat ke medan perang di Bukit Jalil, Malaysia dalam kondisi karut-marut. Konflik antardua kekuatan yang ingin menguasai PSSI dan ketidakadaan dana menyertai kepergian tim. Sejumlah pemain yang mempekuat klub Liga Super Indonesia yang bernaung di bawah PSSI La Nyalla Mattaliti diharamkan memperkuat tim nasional ini.

Hanya Indonesia di dunia ini yang mempunyai dua organisasi sepakbola dalam satu negara. Dan, masing-masing pihak saling mengklaim: Kami yang diakui dunia [FIFA].

Dualisme kepemimpinan organisasi bukan hal yang tabu di Indonesia. Di pentas politik, pernah  terjadi di mana kongres yang kerap melahirkan ketidakpuasan pihak-pihak tertentu, melahirkan partai politik baru.

Situasi ini mengakibatkan kekuatan mengalami penurunan. Seluruh potensi yang seharusnya mampu memberikan hasil atau output yang maksimal, menjadi rusak. Organisasi menjadi impoten.

Maka, kalau kemudian hasil yang maksimal tidak kunjung datang, pelaku di organisisasi itu harus bergembira. Mereka diingatkan, perpecahan tidak akan menghasilkan buah yang baik. Pertarungan antarorang tertentu  di dalam organisasi hanya menghasilkan ‘bau busuk’. Jika tidak tersadar, mereka akan dicatat dalam sejarah sepakbola: Persuak sepakbola nasional.

Bagi PSSI, kegagalan di Piala AFF 2012 menjadi positif. Fakta itu menegaskan, sepakbola Indonesia harus dibenahi. Organisasi yang terpecah belah harus disatukan kembali. Mereka yang perang karena persoalan gengsi atau harga diri, harus ikhlas. Mundur.

Sepakbola Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir, diperkosa. Pemain diikutsertakan masuk ke dalam pusaran konflik kepentingan orang tertentu. Pelaku di sepakbola kita seperti diintimidasi. Mereka dipaksa untuk memilih atau ikut yang ini dan jangan yang itu. Padahal, jika terjadi kefakuman akibat konflik atau intrik itu, pemainlah yang pertama kali merasakan. Kehidupan mereka dihancurkan.

Akibatnya, kini, di sepakbola nasional, orientasi pemain bukan lagi prestasi tertinggi, termasuk tim nasional. Di tengah konflik, mereka hanya bertahan karena takut kompor mereka tidak menyala lagi. Mereka takut menjadi pengangguran. Mereka takut anak istri mereka ikut menjadi peminta-minta. Mereka takut ekonomi mereka hancur. Mereka dikerdilkan.

Itu mengapa, keberanian pemain pun tidak ada ketika mereka dilarang tampil membela tim nasional. Mereka terlihat ikhlas terutama dari kubu PSSI Mattaliti. Pengecualian dan salut hanya layak disampaikan kepada Bambang Pamugkas. Merah putih di atas segala-galanya. Dia tidak takut pada ancaman  klubnya yang akan mempersoalkannya atau membuangnya.

Dia tahu, sikapnya yang memilih membela nama bangsa tak akan menyengsarakannya. “Mereka bukan yang menentukan seseorang miskin atau tidak…” Begitu yang diyakini Bambang. Dalam hal ini Bambang telah menang. Merah putih di atas segalanya, harus berkibar.

Kini, mereka yang selama ini  berkonflik justru harus belajar dari Bambang Pamungkas. Sepakbola Indonesia bukan milik pribadi, kelompok apalagi milik keluarga. Ini salah satu alat yang mampu mempersatukan bangsa, membangun semangat nasionalisme, membangun kebanggaan sebagai anak bangsa.

Kini, kedua kubu harus saling menyadari: ulah mereka bukan hanya telah menghancurkan sepakbola. Namun, lebih dari itu, membuat harga diri bangsa ini telah terinjak-injak di Bukit Jalil. PSSI harus kembali disatukan: Gelar Kongres yang diikuti oleh kedua kubu untuk mendapatkan satu PSSI. Hanya itu jalan keluar.

Tidak terbayangkan jika Indonesia juara di tengah organisasi yang sarat konflik itu. Pasti, fakta yang muncul adalah: saya benar, Anda salah.  Maka, untunglah Indonesia kalah, dan sepakbola  telah dimenangkan. (martin.sihombing@bisnis.co.id)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Martin Sihombing

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top