Sepak bola, platform tanpa label

“Ketika harapan hilang, orang beralih ke kekerasan dan mereka berpikir mereka dapat menciptakan perubahan melalui cara-cara kekerasan, "kata Yamam Nabeel, pendiri Football for Unity.
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 16 April 2012  |  21:57 WIB

Ketika harapan hilang, orang beralih ke kekerasan dan mereka berpikir mereka dapat menciptakan perubahan melalui cara-cara kekerasan, "kata Yamam Nabeel, pendiri Football for Unity.

 

Demokrasi adalah sebuah budaya yang harus dipelajari dan kita ingin menggunakan sepak bola sebagai budaya transisi damai menuju demokrasi dan pembentukan masyarakat sipil. Sepak bola menyediakan platform tanpa label, di mana semua politik dan agama dapat bersatu di tempat umum.

 

Sepak bola dapat membawa orang secara fisik bersama-sama di stadion, tapi itu adalah kesempatan pengembangan pola pikir bahwa perubahan rakyat untuk rakyat. "Ketika mereka tahu mereka memiliki kesempatan untuk menyediakan dirinya sendiri di lingkungan yang damai, maka mereka memiliki hidup yang dapat mereka kontrol," kata Nabeel.

 

"Lihat pada ribuan warga Irak muda, pria dan wanita bersama-sama di stadion, stadion nasional Irak," kata Adnan Kadhum, Manajer Program Football for Unity Irak. "Tidak ada label, agama, tidak ada politik di sini. Kami adalah satu negara. Kita bisa melakukan ini. Kami bekerja dengan orang-orang setiap hari, melalui sepak bola dan kami sedang membangun sebuah bangsa. Ini akan memakan waktu, tetapi saya penuh harapan.”

 

Boleh jadi, ini tidak bermakna ketika dalam beberapa tahun terakhir sepak bola Iran telah menjadi situs overdetermined dari kontestasi sosial.  Hampir setiap institusi di dalam masyarakat sipil dan politik berupaya memaksakan agenda sendiri pada sepak bola.

 

Dalam Sport and Conflict: Is Football an Appropriate Tool to Utilise in Conflict Resolution, Reconciliation or Reconstruction?  dalam disertasi MA Jonathan Lea-Howarth pada 1 September 2006, peran tim olahraga dalam pembangunan perdamaian dianalisi.

 

Analisis menggunakan studi kasus yang didasarkan pada wawancara dengan penyelenggara pembangunan perdamaian melalui proyek sepak bola yang berbasis di Sierra Leone dan Israel, serta studi kasus di Liberia dan Bosnia-Herzegovina.

 

Dari kedua sepak bola profesional dan proyek-proyek sepak bola akar rumput itu, oleh disertasi ini, dijelaskan bagaimana tim olahraga membantu membangun hubungan dan memberikan aspek penting lainnya dari program pembangunan perdamaian holistik.

 

Semua terlihat, olahraga umumnya dan sepak bola khususnya, a.l. mampu menjadi alat pemersatu. Tapi ada juga yang bilang,”Football is a microcosm of life.”

 

Lalu, seorang teman bertanya, di Indonesia? Yang pasti, kini, sepak bola Indonesia memiliki dua badan. Satu PSSI pimpinan Djohar Arifin Husin dan diakui oleh FIFA dan yang kedua adalah PSSI pimpinan La Nyalla Mattalitti, yang terbentuk pada Kongres Luar Biasa (KLB) di Hotel Mercure Jakarta, 18 Maret. Keduanya, mengklaim, merekalah yang benar. Kondisi itu runyam. Paling tidak, ketika nanti kita berdoa untuk sepak bola nasional, Tuhan akan bertanya: “Doa Anda untuk tim yang mana?” (msb)

 

 

>> BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA:

+ Harga emas setelah naik turun

+ PAK DOMO, orang kuat itu mangkat

+ Liga Champions: Di balik kekalahan REAL MADRID

+ SIAPA di belakang sepak terjang DAHLAN ISKAN?

+ CEPAT ITU PENTING, kata Dahlan Iskan

 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Martin Sihombing

Editor : Novita Sari Simamora

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top