Sepak bola balas dendam

Jika melihat prestasi sepak bola nasional belakangan ini, harusnya, kita prihatin, sedih, marah, dan benci. Di Sea Games tempo hari gagal.  Di babak kualifikasi Piala Dunia, juga gagal. Namun, setelah melihat tingkah laku para petinggi di sepak
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 05 Desember 2011  |  08:10 WIB

Jika melihat prestasi sepak bola nasional belakangan ini, harusnya, kita prihatin, sedih, marah, dan benci. Di Sea Games tempo hari gagal.  Di babak kualifikasi Piala Dunia, juga gagal. Namun, setelah melihat tingkah laku para petinggi di sepak bola negeri ini, kita bersyukur. Bahkan masih bisa tertawa, sampai terbahak-bahak.Betul. Bukan karena kehadiran seorang David Beckham, selebritas sepak bola dan mantan kapten tim nasional Inggris, disambut oleh Syahrini, mantan duet Anang Hermansyah, duda beranak dua. Bukan juga karena lapangan sepak bola di stadion utama Gelora Bung Karno-yang dibangun menjelang Ganefo atas inisiatif Presiden Soekarno dan yang utama diperuntukkan buat  sepak bola-- rusak gara-gara perhelatan akbar partai politik.Di negeri yang sepak bola sudah dianggap seperti agama dan industri, stadion ditabukan untuk dijadikan arena kampanye jelang pemilihan presiden, apalagi sekadar perhelatan perayaan ulang tahun partai politik pada saat atau menjelang digelarnya sebuah turnamen sepak bola, yang mempertaruhkan nama besar bangsa dan negara.Bukan pula karena hanya di Indonesia yang selalu mengatakan panitia rugi kendati jumlah penonton yang memenuhi stadion membludag tetapi kerugian itu seperti apa tidak pernah diungkap.Bukan pula gara-gara kehadiran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menentukan kalah menangnya sepak bola nasional. Soal itu bangsa ini tak semuanya sepakat. Kalah menang ditentukan oleh kualitas mental dan teknik tim.Dalam sepak bola, dewi fortuna tidak menjadi ukuran. Semua bergantung pada permainan.Usai final cabang sepak bola Sea Games XXVI, kekalahan Indonesia tidak pernah dikomentari lantaran kita tidak beruntung tetapi lebih kepada kegagalan dua penendang. Jadi, usai pertandingan, penonton pun lebih banyak menuding Gunawan dan Ferdinand Sinaga. Kegagalan kedua pemain itulah membuat Malaysia unggul 4-3 dalam adu penalti.Namun, yang membuat kita tertawa adalah mental kekanak-kanakan para petinggi sepak bola nasional. Jika dulu PSSI melarang kompetisi yang tidak digelar PSSI -Indonesia Premier League-kini justru  para mantan pengurus PSSI  itu melakukannya. Menjilat ludah. Mereka menggelar Indonesia Super League (ISL), bukan ikut IPL yang digelar PSSI.Bahkan banyak orang yang dulu mencerca Arifin Panigoro dengan liga tandingannya itu kini justru menuding PSSI rezim Djohar Arifin. Dari mulai tidak tegas sampai hukum karma.Ketidaktegasan pengurus PSSI saat ini memang terlihat. Demi citra yang sudah kadung anjlok akibat  ingin membawa klub IPL lama ke dalam liga dengan menceraiberaikan klub yang sudah eksis a.l. Persija, PSMS, Arema Malang, pengurus PSSI saat ini menjadi seperti macan ompong. ISL dibiarkan bergulir.Akhirnya ISL jalan, IPL jalan. Boleh jadi, di dunia, hanya di negeri ini yang model kompetisinya ada dua dan tidak akur. Bermusuhan. Ini gambaran betapa sepak bola nasional  layak untuk selalu gagal menggapai hasil terbaik. Dua kegagalan -Sea Games dan kualifikasi Piala Dunia-seharusnya dijadikan momentum untuk membenahi sepak bola nasional.Apalagi jika kemudian pengurus PSSI saat ini mengambil sikap yang sama dengan pengurus PSSI lama. Pasalnya, pemain yang tidak berlaga di kompetisi yang diakui PSSI dilarang memperkuat tim nasional Indonesia.Itu akan menjadi biang keladi yang merusak sepak bola nasional. Nama-nama Titus Bonai, Patrich Wanggai, dan Gunawan  pasti akan tersingkir dari tim nasional. Padahal, mereka telah memperlihatkan potensi  yang bisa membawa harum nama negeri ini di pentas sepak bola internasional.Artinya, kita kembali membuang energi sepak bola nasional. Jika itu adalah pilihan, lebih baik PSSI menghentikan sikap keras kepala dan pongah. PSSI harus mau berdiskusi dengan pengelola ISL.Cari jalan terbaik. Begitu pula pengelola ISL, entah melalui Andi Darussalam Tabusalla atau Nugraha Besoes. (faa) (martin.sihombing@bisnis.co.id)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top